Cerita Birohmah dan KKMF Perspektifku^^

by Prima Helaubudi on Monday, June 27, 2011 at 2:39pm ·

Assalamu’alaykum warrahmatullahi wabarrakatuh ukhti....^^

Well, dalam note ini ana mau cerita-cerita semasa menjadi KKMF 2010 nih. Harap dimaklumkan kalau agak gak waras. Kayak gak tahu ana gimana aja. Hehehehe J

Pada awalnya, ana mengetahui tentang Birohmah dari seorang kawan. Tapi, tetep gak jelas Birohmah itu apaan(maklum lola gitu). Apalagi ketika jam 13.00 WIB saat propti universitas bareng aku kabur. Pas dateng, aku tanya sama kawan perempuan yang duduk di sebelahku (sebut saja Bunga karena waktu itu belum kenalan atau lupa nama).

“Bunga, Birohmah udah tampil?” ujarku sembari duduk.
“Udah, Prim. Pas kamu keluar gak berapa lama Birohmah yang tampil.”

Yah... Capek deh. Udah yang paling ditunggu dan dibuat seorang kawan penasaran malah gak liat -,-“
Asdfghjkkgdsa@#$%^...

Ya udah deh, aku sukses gak tahu apa-apa tentang Birohmah kala itu. Namun, suatu hari setelah aku diumumkan menjadi Koordinator Kahfi Akhwat di FE –yang perlu aku tegasin disini aku gak tahu maksudnya ngapain-, tiba-tiba bertenggerlah sebuah SMS dari nomor tidak dikenal yang diawali dengan 0857.... Aku syok bacanya. Apalagi depannya diawali dengan “Innalillahi wa innaillahi roji’un...” Pikiranku langsung melayang. ‘Ini siapa yang meninggal?’, pikirku. Lalu, setelah SMS berlembar-lembar itu aku baca ternyata aku diamanahkan sebagai KKMF. Lagi-lagi aku bertanya-tanya, ‘KKMF itu apaan pula?’

Ok, intinya sebuah nomor itu sukses membuat awalan kuliahku digelimpangi dengan kebingungan. Tadinya nomor tersebut ingin aku telepon. Namun apa daya operator berbeda. Aku membalas lewat SMS yang kira-kira isinya, “Ini siapa?” namun dengan gaya SMS-ku yang singkat padat, dan tidak jelas itu. Jawabannya pun datang, “Ini Mbak Isti.” Siapa pula itu??

Kemudian, suatu hari, aku dapet SMS untuk kumpul di markas Birohmah. Nah, bingung lagi. Markasnya dimana? T.T

Aku pun cerita sama mbak-mbak di ROIS FE perihal SMS tersebut. Aku pun mengerti –sedikit- untuk hadir disana kalau ada ajakan syuro. Ok, setidaknya gak buta kayak sebelumnya.

Dalam rangka memenuhi undangan syuro, aku yang notabenenya kayak anak kecil, gak punya kendaraan, jakil kemana-mana melanglang buana menuju Masjid Al-Wasi’i guna mencari yang mana sekret Birohmah itu.

Sesampainya di Al-Wasi’i...
Taraaaamm.... Aku masih bingung. Sebelah mananya sih?? T.T
Aku pun bolak-balik dibawah Al-Wasi’i di mana semua tempat seyogyanya terlihat sama. Lalu, aku pun menyerah. ‘Kayaknya nyasar deh. Prima, Prima. Makanya jadi orang tuh jangan punya kemampuan nyasar berlebih.’ Sebelum pergi dengan muka letek, mataku sekali lagi menyisir bagian bawah Wasi’i. Ada BPH, ada TPA, tempat bekam, tempat jual pakaian, dan .......
Oh, I see. Ini tho sekretnya? Tadinya aku kira markas Birohmah itu bagian tempat bekam. Okeh, lanjut...

Aku masuk ruangan itu dengan hati-hati sembari bingung tempat ikhwan yang mana, tempat akhwat yang mana. Lalu, aku pun diberitahukan Mbak-Mbak yang mau masuk juga tempatnya. Seingatku, pertama kali syuro aku tidak bertemu yang bernama Mbak Istika dalam SMS yang kuterima. Alhasil, rasanya SMS tersebut sukses membuatku kayak anak hilang didalam markas. Gimana gak?? Orang gak ada yang dikenal. Huhuhuhuhuhuu T.T

Lambat laun, aku makin penasaran mana sih ini yang disebut-sebut Mbak Isti, Mbak Istika? Ini satu orang apa gimana? Apa orang yang berbeda? Gimana wujudnya?

Lalu, datang lagi undangan syuro. Aku pun bertemu dengan jumlah KKMF yang lebih banyak dan seseorang wanita. Dan ternyata ini tho Mbak Istika itu. Kok gini ya? Peace Mbak Isti.. Soalnya aku membayangkan yang jauh beda. Malah aku pikir awalnya Mbak Isti 2010 juga.. Hehehehe...
(don’t geer please...^^)

Setelah beberapa minggu bingung mode on soal tugas KKMF sampai kemana-mana isi kepala ini adalah tanda tanya, akhirnya setelah pertemuan ketiga aku ngerti juga (Woooo, lamaaa). Aku pun mulai berkenalan dengan kawan-kawan dari fakultas lain yang tadinya aku pikir Mbak-Mbaknya. Hehehehe :D

Asli. Rasanya waktu awal selain aku masih sangat canggung di perkuliahan, di organisasi, aku juga minder (sifat bawaan yang buruk). Apalagi kan akhwat lainnya pada rapi-rapi posisinya. Lha aku? Pas minggu ketiga aja aku baru tahu kalau kuliah itu kudu pakai kemeja atau baju berkerah. Sukses besar dah beda sendiri.

Selanjutnya, banyak syuro, kejadian, dan juga acara seru disitu. Routing abis-abisan. Mulai kami-kami icip-icip posisi koordinator konsumsi, bendum, kestari, ketua, koordinator acara, perlengkapan, dll. Sampe bosen deh pokoknya nyicip posisi-posisi tersebut.

Berbagai bumbu-bumbu pun udah ditaburkan mulai dari senyum, tertawa, sedih, ngambek, dsb. Gado-gado deh pokoknya.

Hingga akhirnya kemarin tanggal 21-24 Juni 2011  kami melaksanakan MUB (Musyawarah Umum Birohmah) XII. Itu lho, acara spektakuler pertanggungjawaban LPJ...

Setelah MUB XII kami secara otomatis didemisioner dan kemungkinan besar KKMF berpisah dan berdakwah di fakultasnya masing-masing. Jujur aja... Enggan berpisah dari mereka terutama dengan Mbak Istika-nya walaupun pernah ngambek dan ada rasa gak enak-enakan sama dirinya namun tetap ketika perpisahan udah didepan mata, jadi hilang semua itu cerita kesal dan sedih.

Mbak Isti kan angkatan 2007, jadi mungkin nanti Mbak udah jadi guru (asik.. Makan-makan...). Tapi, guru dimana dulu? Kalau di ujung berung gimana waa?
Belum lagi dengan kawan-kawan KKMF... Kemungkinan kita bertemu setelah fokus di fakultas masing-masing pasti sulit. Ingatlah hari ini kawan...

Bagaimana kita telah mengecap ukhuwah yang manis ini...
Bagaimana rasanya sebuah perjumpaan...
Memang, perjumpaan dan perpisahan adalah pasangan yang tiada pernah terpisah...
Syukuri ajalah ya?

Kawan-kawan KKMF yang dirahmati Allah Ta’ala...

Nanti kita liat aja adik-adik kita... Ekonomi gak akan kalah lho baik kuantitas ataupun kualitas –insya Allah- hehehehehe^^

Jargon ah~~
KAMU FSLDK!!!
SMART,SHALEH, BERSAHABAT!!! ALLAHU AKBAR!!!
SSB
(Semangat Selalu Beibh)

Itu ceritaku...
Apa ceritamu...???^^

Wassalamu’alaykum warrahmatullahi wabarrakatuh...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati