Analogi Ikan

                   Ikan merupakan makhluk hidup yang hanya dapat bertahan hidup didalam air. Seperti juga burung, atau binatang-binatang lainnya yang tidak bisa hidup di segala medan alam. Meskipun ada yang dapat hidup di dua alam, namun itu juga memiliki keterbatasan.
                  Ikan memiliki ingsang untuk bertahan terhadap arus yang terus beradu di seluruh hidupnya. Bayangkan tanpa adanya ingsang itu. Sang ikan hanya menjadi seekor binatang yang mengikuti arah arus.
                  Hanya ikan mati yang mengikuti arus. Ikan juga menginginkan hidupnya sesuai dengan apa yang diinginkannya. Tidak hanya manusia yang memiliki hasrat untuk berjuang melawan arus.
                  Namun dewasa ini, kita seringkali menjumpai orang yang dengan santainya mengatakan bahwa kehidupan yang dijalaninya adalah mengikuti arus. Dimana arus membawa, maka dia mengikuti.
                  Padahal jika kita ketahui arus akan selalu bermuara pada samudra. Bagaimana kita tahu samudra itu adalah tempat yang sehat dan nyaman untuk kita jumpai? Samudra merupakan tempat yang kejam dimana semua ombak saling beradu menjadi satu dalam bentuk-bentuk abstrak yang unik. Terkadang, adapula hentakan yang datang dan menimbulkan tsunami mematikan. Masih inginkah kita mengikuti arus?
                  Lihatlah terkadang di Samudra Pasifik badai dan topan terjadi pula di lautan. Masih maukah kita menjadi ikan yang mengikuti arus? Jika ya, sampai kapan kita mengikuti arus itu? Selamanyakah? Kapan berhenti?
                  Manusia mempunyai kemapuan yang lebih dibandingkan binatang dan makhluk lainnya. Manusia dapat membuat sesuatu yang apa adanya menjadi tidak apa adanya. Bisa dibuktikan dengan keberadaan manusia di angkasa dengan roket. Lalu ada juga yang melintasi benua dengan pesawat. Menjelajahi samudra dengan kapal, atau bahkan hidup dalam tanah dengan replika sebuah rumah sebagai tempat berlindung.
                  Jika potensi manusia sedemikian besar, masih kita meniru ikan yang pasrah saja katanya dengan arus? Ingat! Ikan berjuang melawan hiruk pikuk arus. Dia menggerakan siripnya untuk mencari makanan. Dia juga berusaha untuk membesarkan anak-anaknya yang berjumlah ribuan. Mereka berusaha bergabung dalam tim, dalam jama’ah. Lalu, mau ikut arus? Berarti bukankah kedudukan kita lebih parah dari ikan?
                  Hidup memang takkan pernah sempurna seperti teori yang tercantum dalam buku teks atau hukum alam yang ada dalam hutan. Menjadi idealis adalah soal diri kita sendiri. Apakah kita cukup tangguh menjadi seorang yang tetap idealis dalam lingkungan yang tidak kondusif? Kekuatan seseorang akan tercermin dalam lingkungn tak kondusif.
                  Berat memang. Namun ketika sudah jutaan orang menggerakan siripnya kearah yang benar, suatu pola yang indah dan cantik akan muncul dari barisan lukisan samudra.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati