5-5-2012

Aku melihat jam dinding dan mereka-reka apakah jam segini acara yang diberikan oleh suatu organisasi kampusku sudah memulai pelatihannya ataukah belum. Aku sengaja melambat-lambatkan langkahku yang memang sudah lambat untuk menuju ke tempat dimana sekarang harusnya aku berada. Ya sekitar 45 menit yang lalu.

Aku menaiki angkutan umum dan berkata, “Unila, ya?” Aku sejenak melupakan perintah ibuku untuk menyetorkan uang ke kantor pos. Akupun turun di suatu lingkungan kampus yang notabenenya memang bertebaran di jalanan ini. Aku segera membayarkan apa yang diperintahkan ibuku untuk menyetorkannya dalam bentuk tunai.

Kembali aku melaju bersama angkutan umum menuju kampus. Dan aku mengecek SMS yang sekita 15 menit lalu dikirimkan oleh adik tingkatku di kuliahan. Bersama dalam satu naungan organisasi menanyakan, “Mb Priiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiimmm dimana?” Aku jawab, “Di jalan. Qm dmana?” Dan dia menawarkan diri untuk menyediakan sebuah bangku untukku. Aku tersenyum. Ada-ada saja. Mungkin sekarang ruangan itu sudah penuh sesak oleh para delegasi di organisasi kampus.

Aku berjalan di sekitaran kampus dan mendapati umbul-umbul yang kemarin baru aku lihat semakin banyak. ‘Maaf, ya,’ ujarku dalam hati. Itu organisasiku juga. Tapi sekarang badanku terlalu ringkih untuk membagi waktu kembali.

Aku kemudian sadar diri meskipun tidak menghapuskan rasa bersalahku. Aku cukup baik berada dibawah tekanan rupanya. Bisa dibayangkan menjalani 8 organisasi sekaligus yang terkadang tabrakan dalam satu waktu. Belum ditambah dengan kegiatan yang terkadang dalam satu organisasi ada dua kegiatan. Ada sekitar 16 pekerjaan. Tidak lupa kalau itu tidak dihitung tugas kuliah, main, FB-an, dan lain sebagainya. Dan aku sangat terkaget mendapati kenyataan itu bahwa aku, masih  bisa berdiri tegak disini. Tidak kurang suatu hal apapun dan IP-ku masih bisa 3. Aku baru sadar disini. Saat berjalan menuju gedung pelatihan.

Sesampainya di ruangan, aku bertemu dengan kawan-kawan yang mengadakan acara. Dan seperti biasa, lo lagi, lo lagi. Aku heran terkadang dalam suatu acara sepertinya di perkuliahan ini tidak pernah aku hadir dalam ruangan yang aku tidak kenal sama sekali dengan setidaknya satu orang dalam ruangan itu. Aku duduk manis di samping adik tingkatku. Tidak beberapa lama, dimulailah acara yang dijanjikan. Rasanya acara itu memang sengaja menungguku. Terkesan narsis memang. Tapi, malu-malu aku akui seperti sengaja menunggu kehadiranku. Setelah aku masuk selang lima menit acara dibuka.

Materi pertama, aku mendapatkan masalah kesekretariatan. Aku tercengang dibuatnya. Aku menyadari bahwa selama ini, sejak awal dari TK secara ektrem belajar berorganisasi aku sangat jarang mengurusi hal-hal berbau administrasi ini.

Dan hasil dari pelatihan masalah kesekretariatan membuahkan rasa sakit hati yang cukup dalam.

“Sebagai mahasiswa harus punya kompetensi. Tapi itu saja tidak cukup. Harus memiliki penampilan menarik. Saran saya pada panitia adakan juga beauty class khususnya buat yang wanita. Oh ya, satu lagi. Karakter building.”

Aku serta merta menggeleng keras kepala. Sejak dahulu hal-hal feminim seperti itu adalah tabu bagiku. Dan yang membuatku heran sampai sekarang, ibuku adalah mantan sekretaris. Beliau masih mencoba hingga sekarang aku mengikuti jejaknya menjadi fashion stylish. Dan yang lebih mengherankan, aku sama sekali tidak terpengaruh.

Lambat laun, aku mulai menyadari betapa banyak kesalahan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi yang aku ikuti selama ini. Cukup menyedihkanku karena ternyata dibandingkan yang ada didalam ruangan ini, akupun tergolong yang sangat minim pengetahuan mengenai kesekretariatan.
Momen-momen yang membuatku sakit adalah pemaparan seorang narasumber mengenai sebuah kebiasaan-kebiasaan yang harus dibiasakan wanita dalam lingkungan kerja. Itu secara tidak langsung mencap diriku gagal. Karena aku bukan tergolong ‘berpenampilan menarik’.

Selepas materi ini, kami para peserta dihadapkan pada waktu shalat dzuhur yang dimana adzan mulai berkumandang. Kami berbondong-bondong keluar, melaksanakan shalat, dan makan hingga materi dimulai kembali.

Saat materi dimulai, ternyata narasumber-narasumbernya sudah tidak asing untukku. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari Fakultas Ekonomi. Tentu saja. Karena materi selanjutnya adalah meteri kebendaharaan.

Aku mendengarkan penjabaran yang disampaikan oleh salah seorang dosen dan aktivis mahasiswa itu. Banyak, banyak sekali yang bisa diambil walaupun sesungguhnya kata-kata itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Memang benar perkataan hadist yang menyatakan bahwa walaupun orang menyampaikan materi yang kita sudah ketahui, kita dilarang untuk pongah dan enggan mendengarkan. Aku merasakan dahsyatnya repetisi dalam acara itu. Dan itu mendorong semangatku lagi.

“Kalian harus pandai menangkap perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan kampus. Coba perhatikan. Berapa banyak acara yang dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan, tapi berapa banyak efek dan boomingnya acara tersebut? Mungkin saja ini karena perubahan sosial yang terjadi di kampus. Coba lihat lagi. Mahasiswa zaman sekarang, sangat ingin cepat lulus. Mengapa mereka ingin cepat lulus? Zaman saya dahulu, bayaran SPP hanya 100-200 ribu. Jadi orang tua tidak masalah anak-anaknya mau 8 sampai 9 tahun di kampus. Tidak masalah. Tapi sekarang? Baru masuk ke kampus saja bisa menghabiskan dana 15 juta. Belum kuliah sudah dimarahi untuk cepat lulus. Bagaimana mau jadi mahasiswa yang aktif. Mereka jadi cenderung malas berorganisasi. Ada juga yang berorganisasi tapi ecek-ecek dan tetap Study Oriented. Angkatan saya dulu lama loh lulusnya. Tapi kualitasnya, kalian dapat lihat mereka yang Study Oriented dan yang aktivis. Secara perilaku, yang aktif berorganisasi sikapnya lebih baik... Jangan takut dengan masalah kalah bersaing. Angkatan saya, banyak yang lama lulus. Tapi kualitasnya jauh dibandingkan mereka yang Study Oriented. Yakinlah, mereka nggak dapet apa-apa. Terbantu kok nanti di masyarakat.”

Aduh, aku malu dengan penjabaran beliau. Karena belakangan ini, aku sangat mencemaskan masalah studi kuliahku. Dan di sisi lain, aku mengenggam dilema yang cukup menganggu di pikiran. Aku memikirkan materi Manajemen Sumber Daya Manusia yang telah aku pelajari mengenai manajemen efektif versus manajemen sukses. Perbandingannya adalah manajemen efektif mengedepankan aspek distribusi informasi. Sedangkan manajemen sukses mengedepankan teknik lobbying dan jaringan. Apa yang dikatakan pemateri tadi benar. Dan yang dijabarkannya adalah manajemen sukses. Namun, beberapa hari yang lain aku mendengar kawan yang memarahiku dan dia juga benar. Bahwa aspek kognitif harus dikedepankan pula. Kembali lagi menohok batinku. Manajemen tawazun (keseimbangan)-ku kurang. Lagi dan lagi-lagi itu.

Teringat kembali uraian pemateri tadi, “Sudah mahasiswa yang mau berorganisasi sedikit, dan kalian tahu? Yang bertahan di masyarakat sedikit. Tahu mereka-mereka yang ada di pemerintahan? (menyebutkan nama-nama). Mereka aktivis. Namun apa yang mereka lakukan? Itulah. Kalian sebagai mahasiswa harus mempunyai komitmen yang kuat. Yang tidak goyah dalam keadaan apapun, dan dimanapun.”

Tertohok lagi. Karena aku berada dalam sebuah lingkungan nyata dimana aku menemukan orang-orang yang sedemikian bangga melakukan kecurangan dalam kehidupan akademis dan organisasinya. Dan mereka bangga dengan itu. Dan mereka juga aktivis. Benar-benar masalah moral.

Di sela pikiranku ini, meskipun aku berasal dari Fakultas Ekonomi, namun tetap aku harus melaksanakan simulasi akuntansi di organisasi. Sedikit banyak aku mengerti. Aku sudah pernah mengerjakannya. Dan lucunya, tidak serumit apa yang diajarkan akuntansi dasarku.

Akupun teringat ucapan tanteku, “Udah-udah lagi belajar akuntansi serius-serius, Ayang! Di dunia kerja nggak dipakai. Justru banyak yang nggak ada di bukunya dan lebih membutuhkan adaptasi yang cepat.”

Hem, hari Sabtu belajar administrasi, akuntansi, politik, keorganisasian, dan moral.

***

Letih seusai pelatihan mengantarkanku pada perjalanan pulang. Dan tiba-tiba semua berjalan bagaikan slow motion di benakku. Entah karena lagu yang diputar adalah lagu-lagu kesukaanku dahulu atau bukan.

Lagu itu ada lagu ‘Cinta ‘kan Membawamu’. Aku sudah lupa-lupa dengan lagu itu. Maklum saja sejak aku berkomitmen disini, aku menghapus daftar laguku yang ada sekita 4 gb dalam RAM komputer. Kalaupun sekarang ada, jumlahnya sedikit sekali dari itu.

Entah mengapa semua jadi terlihat sangat cerah sekarang. Kemudian, aku menyadari bahwa aku kembali lagi ke fase melankolisku yang jarang aku tunjukkan. Semua menjadi begitu jernih dan indah. Dan saat melankolis begini, aku melepaskan semua pertahanan tentang sikap baik-baik saja dan masuk dalam suatu sentimen.

Aku memikirkan semua yang pernah terjadi di masa lalu. Bahkan semua orang yang kini sudah memburam dalam ingatanku. Tentang bagaimana mereka menyakiti hatiku dan juga sikapku terhadap mereka.

Aku mengingat semuanya. Semua sebab dan alasan. Juga akibat perbuatan. Dahulu pernah aku membenci kalian, mungkin tanpa aku sadari.

Aku juga mengingat flashback diriku di masa lalu. Dari seorang gadis kecil yang pendiam. Gemar mengamati ekspresi tenang orang-orang. Berubah dalam fase keingintahuan dan hanya tenang dalam ulasan musik seriosa dan lukisan pemandangan yang aku sukai karena kemagisan bagaimana bulir-bulir padi itu dapat terlihat berbeda. Berubah menjadi gadis pemarah yang hanya mempunyai ekspresi sedih dan marah. Berubah lagi menjadi gadis ekspresif yang mampu membuat orang sekitarnya terkadang terintimidasi. Dia juga berkembang menjadi gadis yang sampai sekarang tanpa sadar mudah merekayasa perasaan orang lain. Namun ternyata, dia paling kesuliatan merekayasa sikapnya sendiri. Lalu dia berkembang menjadi gadis yang aktif dan loyal. Pernah juga menjadi gadis kejam. Dan terkadang dia menjadi gadis yang tenang.

Aku menikmati setiap jengkal perubahan itu. Dari sini, saat ini. Dan hatiku tersenyum menyadari bahwa gadis itu menjelma menjadi sosok impiannya. Berubah menjadi sosok yang digemarinya dalam anime kesukaannya. Dia juga berubah pelan-pelan menjadi sosok nyaris sempurna menurut asumsinya yang dahulu dia rasa sangat mustahil perubahan itu menghampiri dirinya.

Aku memaafkan semua orang yang memanfaatkanku secara tidak baik. Aku memaafkan mereka yang menjadi musuhku. Aku memaafkan mereka yang membuatku jengkel dan sempat berpikir untuk memberantas kepercayaan yang ada di hatiku. Dan rasanya sangat jernih dan murni. Seperti air bersih yang tidak terdefinisi warnanya.

Aku turun diseberang jalan rumah yang sangat ramai karena ini adalah waktunya pulang ke rumah. Dan aku menyaksikan setiap pasir, batu, dedaunan, warna keemasan yang menimpa atap-atap rumah semua menjadi simfoni satu dalam kepalanya menyuarakan keindahan. Aku bahkan bisa membagikannya dalam bentuk cinta yang tercacah ekcil-kecil. Terasa bagai menyelimuti seluruhdunia. Memang terkesan hiperbola aku mengatakan cinta. Namun, ya. Itu adalah yang aku rasakan sekarang sebagai suatu kata diatas rasa sayang.

Dulu, aku sempat membenci seseorang sampai bertahun-tahun lamanya. Namun, aku mampu melepaskan rasa benci itu saat SMA kelas 3. Itu bisa dikatakan suatu lompatan drastis karena aku tidak pernah membenci orang seperti benciku pada orang itu. Dalam bentuk kata-kata “I thought I would be in The Eternal Hatred”.Dan ini menjadi sangat indah karena aku mampu memaafkan mereka yang aku benci. Musuh, kawan, dan semuanya. Aku mendoakan hal baik pada mereka. Terlontar dari hatiku begitu saja secara irrasional.

Aku terkesiap menyadari itu. Aku seringkali menonton anime dan drama dimana aku menyaksikan seorang tokoh yang kesabarannya begitu sempurna. Aku berpikir bahwa orang itu sakit jiwa karena tidak ada rasa marah dalam ekspresinya. Kemudian, detik ini aku sadar bahwa musuh sang sempurna itu sesungguhnya terus mengganjalnya karena dia tidak mampu menerima kelemahannya sendiri. Bahwa dia tidak mampu memaafkan. Dan aku sadar bahwa aku telah menjadi si antagonis. Dan dengan memaafkan ini, aku menjadi protagonis. Aku berubah dari menganggap semua hal yang baik itu mustahil bagi diriku menjadi mungkin.

Aku menemukan sebuah hal satir tentang ini. Aku sebut ini sebagai “Forgiveness is a terribly Revenge” Mengapa? Karena memaafkan adalah suatu hal yang sulit. Melepaskan sebuah kekangan pada hati dan pikiran kita. Dan hal ini tidak dapat dilakukan oleh seorang yang hatinya dipenuhi kebencian.

Aku masih tersenyum jua melihat rasa yang begitu murni ini. Dahulu pernah ada yang memberiku sebuah nasihat yang kira-kira berbunyi, “Jika kamu merasakan kemalasan bisa jadi alasanmu untuk riya’ sudah tidak ada lagi dan kau kembali pada hakikatmu bahwa kau tulus.”

Aku kembali mengecek nuansa hatiku. Aku menemukan sekarang suatu ketenangan. Dan aku tinggal menunggu semangat itu kembali membuncah. Sekarang aku minta maaf sekali lagi hanya bisa menerima beberapa pekerjaan dari organisasi. Aku kemarin gagal total, pernah. Dan itu menyakitkan. Tidak ada yang benar-benar bisa membantuku saat itu. Dan sekarang, aku sedang memusatkan diri pada sumber yang sangat menarik hatiku dan merupakan rantai komando yang harus. Bersabarlah. Aku akan segera pulih dari letih ini.

Aku senang dengan perubahanku yang dari buruk menjadi lebih baik. Bukankah itu lebih baik daripada menjadi lebih buruk? Sperti ada sebuah retorika yang aku dapatkan dari seorang kawan, “Lebih baik mana, mantan preman atau mantan ustadz?”

Tentu kita tidak perlu jawabannya. Kita sudah tahu. Namun, cap yang ada di diri kita menuntut kita untuk tangguh. Dan aku sungguh kasihan dengan mereka yang sangat memuja orang lain karena anggapan bahwa orang itu begitu baik, begitu sempurna.

Hati-hatilah dengan anggapanmu itu. Karena sesungguhnya setiap kita punya kekurangan dan bisa jadi kau belum melihat kekurangan itu. Dan bagi yang merasa dirinya sudah cukup baik, coba cek diri lagi. Siapa tahu dibalik kecantikan yang dianggap itu tersimpan borok dan nanah yang busuk. Dan jikalau memang tanpa kita sadari diri normal. Hati-hati. Hidup tak pernah ada yang normal. Semua pasti tidak ada yang normal. Jika terlalu normal di awal, maka kemungkinan di pertengahan atau akhir adalah saat-saat kehancuran.

Untuk semua yang tercipta dan pernah tercipta.
Untuk semua yang akan menuju Sang Pencipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati