my struggling at SMA (ini nyata)

by Prima Helaubudi on Tuesday, January 3, 2012 at 4:42pm ·

Saranku jangan lanjutkan baca note ini jika tidak suka dengan yang namanya curahan hati atau cerita sedih.

Aku membuat cerita-cerita perjuanganku SMA semata-mata bukan untuk apa-apa. Akan tetapi karena aku kini sangat hancur. Namun, setiap mengingat perjuangan-perjuangan kala SMA tiba-tiba degup jantungku jadi lebih berirama dan semangatku tersentak-sentak.

Aku chatting meminta motivasi pada kawanku. Dan inilah jawabannya:

"Coba ingat-ingat kembali masa-masa emas di kolastra dan rohis... Renungilah... Pahamilah...

Temukan yang bisa menyulut gelora kembali, mustahil semuanya tiada warna, pasti ada yang indah dan terkenang... Lagi inspiratif..."

"dimana antum yang berapi-api dengan selembar kertas yang bertuliskan kata-kata yang antum konversikan menjadi sebuah seruan di tengah keramaian yang sedang terhibur oleh penguasaan panggung yang luar biasa?"

"seruan, air mata, perjuangan, rintihan, emosi positif... Dimana mereka yang dahulu untuk sekarang?"

"ada"

"sampai kapan stuck seperti ini? Bukankah lebih baik meneruskan hidup? Daripada hanya seperti adek-adek kelas gua yang disibukkan oleh cinta, galau, gaje, gila... Hidup mereka stuck, tidak pernah terus.

Kita yang sudah ada di atas mereka sudah layak menengok ke depan, mengintip sesekali bekal hari tua, dan berubah...

Generasi galau 2011 masih ada namun bukan itu yang asik buat kita..

Ada pahlawan di hatimu, ada semangat juga... Dia sedang kalah oleh kemalasan... Kegalauan... Yang tak sengaja kau umbar di depan publik, padahal Allah dan Rasul-Nya menyuruh untuk menyembunyikan.

Cari dia, ukh... Dan dirasa.. Ini bukan akhirmu kan? Dan bukan akhir masa, masih banyak teman di sisi.

Atau mungkin karena isi jejaring sosialmu yang gak pantas dengan level kita yang sudah mahasiswa. Masih berisikan celoteh2 gak keruan anak SMA. Bersihkan itu bila dirasai afdhal, karena pasti buat kita nyaman."

"Hadapilah, kawan. Cuma ada 1 Prima yang diciptakan seperti ini, tidak ada yang lain. Masihkah kita menyuruh sisi lain untuk menghadapi semua ini? Kurasa tidak."

Demikian penuturan beliau. Kemudian, aku juga membaca status kakak tingkatku SMA, dia berkata,

"Tiba-tiba keinget kalian kakak Made Mulyawan, Asihdo Sibarani, Emir Chou, Yusuf Prayudi Imawan, Rizka Mahardika, Dyah Kinanti Ningtyas, Fika Mayantiara , Ade Tiffany Pasha , Maskuroch Adesty Imass dan semua angggota KOLASTRA-TANYA yang GAK CUKUP DI TAG SATU-SATU. KALO PROSES ITU LEBIH PENTING. hasil itu cuma penghargaan atas kerja keras, usaha, pengorbanan dan doa kita. proses itu dimana kita bisa belajar semuanya, belajar jadi lebih baik. dan saya akan berproses untuk perjuangan kuliah saya tahun ini. mohon doa nya yaa :) maaf kalo jarang nongol.
Like · · Share · about a minute ago"

Aku jadi sadar, dan teringat.. Bahwa dulu di KOLASTRA aku diajarkan bertemu dengan orang-orang berlatar berbeda. Ada yang psychopath, egois, menel, friendly, santai, tegang, keras, tegas, lembut, pendiam, cerewet, dll. Namun, kami tidak pernah mengatakan "loe harus berubah." Tidak pernah. Karena berubah adalah hak personal individu.

Sementara sekarang, aku selalu bertemu dengan orang-orang yang mengatakan untuk berubah karakter, mengenakan topeng, merekayasa sikap, yang menurutku tidak lebih daripada berbohong. Umar bin Khattab keras dan tegas bukan main tuh? Tapi pernahkah Rasulullah menyuruhnya berubah?

Kata-kata mengubah karakter lebih pantas menurutku untuk mereka yang terpidana membunuh. Dan kembali, mengubah bukan kata yang pantas. Saya lebih suka menyesuaiakan.

Aku masih terperangkap dengan masa transisi saat ayahku sakit dahulu. Itulah yang membuat semangat juangku tertidur dan sembunyi dari kenyataan.

Aku selalu bilang, "aku gak mau kalah dengan situasi dan kondisi!" karena kalah dengan sikon lebih menyakitkan daripada kalah oleh kekalahan itu sendiri. Saya berkali-kali kalah dan sakit saat test. Seperti saat olimpiade, atau Simak UI dulu. Tapi aku masih bisa bangkit. Sayangnya, pukulan-pukulan sikon terlalu kuat menderaiku kemarin.

Aku merasa gagal sebagai anak merawat ayahku sakit,
Aku merasa gagal kuliah keluar kota, mendapatkan tempat terbaik yang aku yakin aku sanggup dan mampu disana. Di tempat yang aku tinggalkan karena orang tuaku tidak ada biaya dan ingin aku disini. Di tempat yang aku lepaskan dengan senyum walau hati menangis. Aku tidak boleh egois!

Murrobiku pernah berkata bahwa ketika suatu hamba lulus dari suatu ujian, maka ujian itu akan ditingkatkan oleh Allah, atau diulang sekiranya gagal. Dan itulah yang aku rasakan.

Aku sudah sering masuk suatu tempat yang tidak aku sukai. Namun kali ini, ujianku ditingkatkan dengan kematian.
Aku sering kalah, tapi aku mendapat tempat nyaman untuk bertahan. Tapi sekarang, ujianku ditingkatkan dengan tidak adanya tempat nyaman itu.

Rasanya? Ini pukulan yang teramat telak! Bukan hanya tidak mendapat yang aku ingin, bukan hanya masalah ditinggalkan. Tapi dipecundangi oleh sikon adalah rasa sakit yang paling nyata.

Ini seperti aku terluka parah, namun tetap aku bawa berlari. Ini seperti aku gegar otak tapi cuma diberikan sebutir parasetamol.

Aku teringat bahwa Al-Qur'an berkata bahwa boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal baik untuk kita. Mungkin inilah salah satunya.

Teringat kisah Nabi Ibrahim yang ditugaskan menyembelih Ismail.
Jika ditanya, "ikhlas?"
Jawabku, "ya."
Jika ditanya, "ringan?"
Jawabku, "enak aja ringan!"

Sebab jika ini ringan, tidak akan diberi hal ini padaku. Mungkin kamu berkata, "itu ringan." Yakin? Sudah pernah mendapat yang seperti saya dapat? Jika sudah, selamat! Mungkin kamu lebih kuat dariku dalam hal ini. Tapi aku tidak jamin hal lain. Jika belum, berhenti membual! Dan pahami sajalah.

Kututup mata dan merasakan serpihan kenangan bertebaran di nadiku. Ya, cuma saya yang bisa selesaikan yang semakin sulit ini. Berhenti mengharap orang mengerti. Karena nyatanya, sedikit sekali mereka mengerti. Apalagi paham bahwa mereka didaulat amanah tinggi oleh pencerita. Jika dia bukan pendengar yang baik, maka sia-sia saja bicara dengannya.

Cepat atau lambat aku harus kembali berjuang. Sebentar lagi umurku 20 tahun. Dan aku tidak tahu, mungkin beban dua tahun ini akan bertambah dan tidak mungkin berkata aku tidak siap. Mau tidak mau, harus. Dan dia, yang penuh juang itu harus segera bangkit.

Kawanku sering berkata bahwa hidupku mulus. Kata siapa? Anak pejabat juga punya masalah. Apalagi hanya aku?

Harus terus berjalan...
Because this is my life. And no one can order me what I must to do! Kisahku nyata, kawan! Dan Prima yang seperti itu pernah ada!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati