Kamis, 16 Mei 2013

Nyoret

Apa sih kok judulnya nyoret? Maaf guys... Aku lagi gak sempet fokus nulis setengah tahun ini. Alhasil puluhan kisah ber-ending masih juga ngendep di kepala.

Nanti--insya Allah--pada saatnya akan aku beberkan kisah-kisah itu di sini.

Pertemuan. Pertemuan adalah sebuah keajaiban. Ketika benang takdirmu dengan seseorang yang asing berhimpit menjadi satu. Bergelombang, membentuk arah yang kadang tak tentu.

Ada yang mengatakan padaku bahwa jangan pernah bicara kedekatan jika belum pernah bertengkar. Namun, sering bertengkar tapi tanpa tanggapan? Mungkin saja itu pertanda seseorang tersebut harus lepas dari arah yang kautuju.

Perpisahan. Ini menyakitkan bahkan untukku, ini sulit diterima. Sesuatu yang naif tapi fitrah--menurutku--jika manusia menginginkan ketiadabatasan. Sering diharap, manusia-manusia, orang-orang, bahkan peliharaan mungil tetap di tempat. Memanja dengan kita. Menyatukan damba.

Satu hal : hanya orang yang diberikan rahmat untuk tegar yang diuji dengan banyak perpisahan dan keterbatasan.

Sebaliknya, ya, menjadi rapuh. Dan sayangnya kerapuhan ini sering termanipulasi atas kenikmatan semu yang terlihat.

Sayang, ya, sayang. Kebersihan hati. Siapa yang tahu?

Selasa, 07 Mei 2013

Ikhwan Dibalik Hijab



Ikhwan Dibalik Hijab

*Suatu hari di Desember 2011—NB : Semua di cerita ini sudah di-approve dengan murobbiku—Nama disamarkan, redaksi dikondisionalkan sesuai dengan isi*

GILA! GILA-GILA-GILA...

Hari ini, aku berada di suatu tempat yang biasa kujumpai. Mushala fakultas. Ada jaltsah ruhiah untuk BBQ. Dan jleb. Wew! Jadi MC? Yap, keringat dingin mengalir dibalik baju PDH-ku.

Kebetulan, yang hadir saat itu menjadi pemateri adalah salah seorang murobbiku. Saat di sini, aku dilarang menyatakan siapa-siapa murobbiku. Demikian sistem di tempatku saat itu.

Aku merasakan ada keganjilan dengan murobbiku ini. Setelah berganti murobbi, aku tak lagi mendengar kabarnya. Dan tiba-tiba, netraku tertambat pada sebuah cincin mungil yang melingkar manis di jari manis kiri murobbiku yang berperawakan mungil itu. Dan saat menyebutkan status, tidak seperti biasanya, beliau terdiam sejenak.

“Sekarang maih kuliah. Status.... single.” Aku mengerutkan dahi. Wah, kok ganjil?

Selesainya, kami diminta berkumpul oleh murobbiku di sudut mushala. Dan benar saja. Ada berita mengejutkan.

“Mbak mau menikah...”
“HAAAAAAAAAAAAAHHHHH?????????!!!!!!!!” ujar kami histeris serentak.
“HUUUUUUSSSSSSSSSSSHHH, mushala!” ujar murobbi kami sambil meneriakan dalam bentuk bisikan.

Murobbikupun bercerita bagaimana kisah pertemuannya dengan jodohnya—insya Allah--.

Jadi, ketika sebulan sebelum Idul Adha’, sang ikhwan menemui murobbinya dan menyatakan kesiapannya untuk menikah. Beliau mengajukan sebuah proposal. Alasan desakan tersebut mudah. Beliau ingin memiliki seorang pendamping menemani dirinya berdakwah dan untuk menjaga kehormatannya. Murobbi si ikhwan kebingungan. Saking kebingungannya, si murobbi ikhwan menanyakannya dengan halaqah-nya siapa yang memiliki kenalan akhwat shalih. Dan hasilnya nihil.

Si murobbi ikhwan menanyakan kembali adakah yang bisa dipinang di lingkungan si ikhwan. Dan si ikhwan menyatakan bahwa di lingkungan beliau tidak ada yang dapat dipinang. Adapun, mereka adalah orang yang masih tergolong saudara meskipun jauh. Si ikhwan tidak mau. Sebab, bukankah suatu sunnah juga untuk meminang orang yang jauh hubungan kekerabatannya? Untuk emnegakkan sunnah ini, maka si ikhwan meminta murobbinya mencarikan.

Qadarullah, murobbiku merupakan salah seorang yang terkadang mengajar di sekolahan adiknya di Kotabumi. Dengan segera beliau selalu menjemput adik-adiknya di sekolahan. Dan... istri si murobbi ikhwan (agar mudah ingat, sebut saja istri ustadz) turut menjemput anaknya di sekolahan ini pula. Dan, deg, dia melihat murobbiku yang merupakan kenalannya. Setelah berbincang-bincang dan berpisah, si istri ustadz baru kemudian tergerak hatinya untuk mengajukan murobbiku dengan si ikhwan.

Dan benar saja, proposalpun berpindah dari si ustadz, ke istri ustadz, dan sampailah kepada murobbinya murobbiku. Murobbiku bingung. Beliau terkejar deadline untuk lulus tahun ini. Belum dakwah yang menunggu. Dan yang terakhir, apakah beliau mumpuni? Ketika keraguan itu menyergapnya, beliau disarankan untuk istikharah.

Tingkat stress akan memengaruhi keadaan seseorang. Murobbiku yang punya masalah dengan tukak lambungnya, langsung sakit dan tidak bisa makan. Orang tua beliau cemas. Skripsi-skripsi. Dakwah-dakwah. Menikah? Ya Allah...

Alhasil, dalam istikharahnya dan melihat profil si ikhwan, beliau mantap mengajukan diri dan membuat proposal yang isinya beliau bilang ‘nggak banget’.

Ketika menyampaikan dengan keluarga beliau yang dari awam menuju paham dengan izin Allah, beliau mendapatkan restu. Akan tetapi, ibu beliau masih merasa keberatan dengan kepergian anak perempuannya. Ditambah dengan ‘kompor’ dari adik kembarnya. Untungnya, beliau dibantu dengan adik laki-lakinya untuk menentramkan hati sang ibu.

“Kenapa Mbak menerima kalo pikiran Mbak begitu sulit?” tanya salah seorang dari kami. Murobbiku tersenyum. “Karena dia menikah untuk dakwah sih, Dik. Itu jadi nilai plus-nya di mata Mbak. Ditambah, Mbak dinasihati oleh murobbi bahwa ikhwan sholeh tidak akan datang dua kali. Dan ini ibadah. Tidak ada itsar (red: mendahulukan) di dalamnya.”

Setelah persetujuan didapat, hari lamaranpun datang. Dan tiba-tiba saja tetangga beliau menggempar. Bahkan untuk acara lamaran yang tadinya mau tertutup saja, tiba-tiba ada tetangga yang menyiapkan speaker, mic, dan lain-lain. Tentu saja, murobbiku kaget.

Orang-orang desa beliau menanyakan tentang bagaimana mungkin murobbiku yang terkenal tidak berpacaran dan menjaga hijab bisa mendapatkan suami secepat itu. Dan murobbiku mengambil kesempatan dakwah ini dengan menyatakan bahwa untuk mendapatkan jodoh yang baik, kita juga harus baik. Salah satu caranya adalah dengan mendekatkan diri pada Allah; tidak berpacaran.

Ketika hari H datang, si ustadz, si ikhwan, dan perwakilan keluarga terkaget melihat kumpulan massa di dekat rumah murobbiku dan juga speaker dan mic yang lengkap.

Pembicaraan dibuka oleh si ustadz. Si ustadz menguak sebuah kenyataan unik. Nama murobbiku dan si calon ternyata sama-sama mengisyaratkan kata ‘cahaya’ dalam bahasa Arab. Sehingga diberikan semacam sugesti akan ke-barakah-an keluarga mereka kelak. Pengemban dakwah ke depan.

Murobbiku yang berkaca mata sengaja melepaskan kaca matanya agar tidak perlu melihat calonnya. Murobbiku hanya bisa menduga wajahnya sudah tidak keruanan. Maklum saja. Rasa malu beliau terjaga dengan adanya benteng tidak berpacaran. Sementara si ikhwan, dia memandang murobbiku lekat sesuai dengan perkataan para tetangga yang menyaksikan kejadian tersebut. Wajar saja, memandang saat khitbah merupakan sunnah, bukan?

Saat ditanya kesediannya, murobbiku hanya diam. Sebagaimana dalam hadits, itu artinya iya.

Selesainya, beliau diberitahukan segala kejadian. Dan beberapa lama, beliau kembali ke Bandarlampung karena suatu urusan. Dan segera, berita menyebar. Beliau ditahan satu kosan tempat para akhwat berkumpul. Dan qadarullah, para akhwat mengetahui siapa orang yang menjadi calon tersebut. Lebih dari murobbiku sendiri.

Idul Adha’ saat itu, keluarga ikhwan datang dengan membawa cincin tanda pertunangan yang qadarullah kebesaran di jari murobbiku. Dan dengan lucunya, di depan sang calon mertua wanita, murobbiku sumpal dengan kertas yang sontak membuat semua yang ada di ruangan tergelak.

Seusai dengan kejadian itu, karena terburu-buru, si ikhwan dan keluarga tidak sempat mengucapkan salam perpisahan dengan keluarga murobbi. Sang ibu murobbiku mengatakan seusai kepergian mereka, “Calon menantu kok ndak sopan.” Dengan lembut, murobbiku menjawab, “Ibu, bagaimanapun, mereka belum menjadi muhrim ibu. Jika ibu bersentuhan dengannya berdosa. Jika nanti sudah benar-benar jadi, ibu boleh berkata demikian. Lagipula, tadi mereka terburu-buru karena sudah mau hujan.” Lembut, namun tegas. Dan sang ibu menerima dengan setengah enggan.

Pernikahanpun terjadi dengan sakral.

Beberapa waktu lamanya hingga kami bertemu dengan murobbi kami kembali. Dan...

Ternyata, hidup itu lucu. Kehidupan murobbiku dan suaminya biasa saja. Bahkan untuk ukuran manusia, kekurangan jika menggunakan takaran materi.

Memasak adalah tugas suami. Dan mencuci baju tugas istri. Itu salah satu hal yang membuat kami tertawa. “Mbak udah bilang waktu di-khitbah geh. Mbak gak bisa masak.” Kami tertawa mendengar bagaimana dia salah menggunakan mana yang tepung terigu dan mana tepung aci. Disindir lagi di hadapan mertua.

“Mumpung jadi akhwat belajar masak, Dik. Belajar masak.” Kamipun tertawa dibuatnya.

Pendiam? Itu kata proposal suami murobbiku. Nyatanya? Ternyata ikhwan tersebut jauh lebih lucu ketimbang murobbiku sendiri yang notabenenya sering membuatku sakit perut. Bayangkan, Liwa-Kotabumi yang katanya bisa enam jam, murobbiku tidak berhenti dibuat tertawa suaminya. Ckckckckck...

Gara-gara sering dibuat tertawa, refleks alami dari murobbiku keluar. Suka memukul menggunakan kertas koran. Sehingga ada cerita ketika mereka tidak sengaja melihat berita kriminal, ada masalah KDRT. Dan si ikhwan dengan lucunya di samping murobbiku mengacungkan tangan dengan meringgis yang dibuat-buat, “Saya juga di-dzalimi. Tolooong...” Dan gelak tawa berkumandang.

Murobbiku adalah tipikal yang suka menggunakan ‘gue-gue, lo-lo’ kalau bicara. Dan sontak suaminya kaget. Dan lucunya, suaminya yang justru mengikuti cara istrinya. “Ya, siapa suruh ikutan. Kaget kali dia, ya?” Jelas murobbiku santai.

Sementara, adapula kebiasaan di ikhwan yang jadi kebiasaan murobbiku saat ini. Si ikhwan suka memaksa murobbiku untuk belajar Bahasa Arab. Dan murobbiku suka menolak sampai dipaksa-paksa. Sampai akhirnya, ketika ada tes, murobbiku tidak bisa mengerjakan dan gurunya mengatakan, “Makanya, kalo diperintah suami, ya, mbok nurut.” Murobbiku menunduk malu. Sehingga dia mulai mengikuti si ikhwan belajar.

Ketika hendak masuk ke kampus, sepasang kekasih ini duduk bersampingan dan bercanda ria dalam angkutan umum. Hal itu menjadi pemandangan di tempat tersebut. Dan murobbiku merasakan gangguan akan dakwah. Qadarullah, si ibu-ibu yang satu ruang ini bertanya, “Dik, pacarnya, ya?” Murobbiku tersenyum. “Bukan, Bu. Ini suami saya.” Dan sang ibu hanya berdecak kagum sambil berkata, “Ckckcckkk.. Muda banget, ya?”

Kejadian berikutnya adalah ketika si ikhwan mendatangi suatu diklat. Banyak ibu-ibu yang tertarik dengan perawakan beliau dan ‘menawarkan’ anaknya. Dan semua ditolak dengan halus. “Saya sudah menikah, Ibu,” halus si ikhwan. Dan semua ibu itu menyayangkan.

Si ikhwan lapor pada murobbiku,

Dik, tadi gue mau dikenalin sama anak gadis ibu-ibu peserta diklat.
Apa jawabanmu, Mas?
Ya ditolaklah. Bilang udah nikah.
Kok gak diladenin?
Lho? Boleh, ya? :D
Boleh. Tapi liat aja... :D

Di samping itu, mereka punya panggilan—yang agak riskan dibilang panggilan sayang—tersendiri, yaitu: Tukang Ojek dan Juragan. Contoh: “Dianter siapa ke sini, ***” Murobbiku menjawab, “Tukang Ojek.” Atau, “Umi, aku gak bisa pulang. Tukang Ojek belum jemput.” Sebaliknya, “Ntar, ya. Saya mau jemput Juragan dulu. Nanti marah.” Ini si ikhwan ke murobbiku. Wah, wah. Saya sampai menggelengkan kepala dengan dua insan ini. Kok kocak?

Suatu ketika, murobbiku menanyakan sesuatu. “Mas, pernah pacaran?” Ternyata suami murobbiku pernah berpacaran sekali. Udzurnya adalah ilmu belum sampai padanya. Dan ketika diketahui, ternyata wanita tersebut putih, cantik, baik, dan kaya. Manalagi, ternyata ketika belum berilmu, suami murobbiku telah meletakkan foto si gadis di Alqurannya. Sontak saja, murobbiku ngambek.Pantes aja di proposalnya dibilang dia nyari akhwat putih dan kalau bisa dokter.  Ternyata... ya, gak bisa dipungkiri, dik. Mbak cemburu. Jadi, pas di depan sih, biasa. Setelah di masjid **, Mbak nangis dan ngambek. Mbak merasa dibandingkan walaupun itu akibat ketidaktahuan.”

Semoga barakah, Mbak, pernikahannya. Apalagi sekarang, beliau sedang hamil. Semoga anaknya shaleh/ah.

Hikmahnya tentu sangat banyak. Aku akan sebutkan beberapa:
·        Jodoh tidak ke mana dan bisa siapa saja.
·        Perbaiki dirimu jika ingin jodoh yang baik. Kalau kata seorang akhwat, “Semuanya memang sudah ditakdirkan. Tapi, untuk satu yang bisa kita usahakan adalah masalah pasangan hidup. Karena Allah telah mengatakan bahwa kita akan mendapat yang se-kufu’. Maka, perbaiki diri kita dahulu.”
·        Sebelum pernikahan, hati haram untuk diberikan. Ini juga diajarkan oleh seorang ummahat padaku, “Ketika hendak menikah, ibu istikharah. Ibu sangat tidak ingin ada perasaan yang berlebihan dan juga keraguan. Ibu inginkan hati ibu tetap di tengah-tengah. Ridha jika tidak jadi dan juga tidak bingung untuk melaksanakan. Jika itu terjadi, meskipun H-1, ibu siap meninggalkan pernikahan waktu itu. Malu tidak akan seberapa dibandingkan rasa ragu yang menganggu iman.
·        Banyak orang yang belum jadi istri/suami, baru komitmen, baru TTM, HTS, dan sebagai macamnya yang sudah mengenal-ngenalkan saudara dan keluarganya. Padahal, jadi muhrimpun belum. Masih banyak kemungkinan. Bisa saja jika si laki-laki atau si perempuan justru jadi dengan adik, kakak, sepupu, dan keluarga kita lainnya. atau bisa jadi ketika keluarga sudah nyaman dengan orang tersebut, namun ternyata qadarullah dia bukan jodoh maka akan terjadi kesulitan dalam melepaskan hubungan.
·        Kecemburuan muslim itu tinggi.
·        Orientasi muslim menikah itu karena Allah, demi dakwah.
·        Bukan karena banyak kesamaan, atau banyak perbedaan, maka dua insan bisa bersatu. Akan tetapi, karena Allah menjadikan semuanya jadi lengkap dan cocok secara ajaib dan tiba-tiba. Jangan takut.

Bandar Lampung, 7-5-2013
Pukul 01.00 WIB
Ehm.. Ehm... Ngomporin... :-)

Cuplikan



Cuplikan

Selamat dini hari waktu Indonesia, teman-teman!

Aku sedang menikmati segelas kopi bermerek Good Day Carebbian Nut ditemani dengan dendang ayat-ayat Alquran dari Surat Al-Jumu’ah. Sebuah surat yang dibacakan oleh seseorang ustadz yang juga adalah seseorang yang aku kenal dari masa SMA. Dan... salah satu orang yang aku tidak sukai.

Sebelum tulisan ini aku publikasikan, bagi beberapa orang mungkin melihat tulisan tanpa judulku yang berisikan, “ketika semua perasaan berbalik”. Sungguh, aku juga terkaget dengan semuanya. Asal engkau tahu saja, banyak orang yang dahulu aku begitu sukai. Namun, kini menjadi musuhku atau minimal tidak aku sukai. Demikian pula sebaliknya. Ada orang-orang yang tadinya tidak aku sukai bahkan benci, berubah menjadi begitu aku sukai bahkan cintai.

Tentu, kita sudah hafal dengan kata-kata hadits yang diriwayatkan dari istri Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, yaitu Hafshah bahwa baginda gemar membaca Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbik ‘alaa diinik.

Hati manusia... ya, masih sebuah misteri. Sebentar dapat berubah. Lebih cepat dari cuaca. Bahkan lebih cepat dari hembusan nafas. Sehingga aku bisa berkesimpulan bahwa sangat naif dan tak berdasar bagi seseorang yang melarang atau tidak menyukai orang yang memiliki kecepatan perubahan hati seseorang. Hati ini bukan manusia atau si individu itu sendiri yang memegang. Melainkan Dia, Yang Maha Kuasa, Maha Pembolak-Balik Hati. Jadi, jangan sekali-kali manusia bersikap pongah tantang siapa yang harus bagaimana. Cukup didoakan.

Teman, tugasku sedang sadis-sadinya. Tapi beberapa waktu ini, aku tidak memiliki kekuatan rasanya untuk mengerjakannya dengan baik. Ditambah dengan qadarullah di mana aku mulai berjualan dengan teman-teman. Lagi-lagi, aku merasa sangat tertinggal jauh. Mengapa? Aku mengikuti ajaran Islam ini sudah dalam keadaan yang cukup jauh. Serius di usia 20 tahun. Cukup mantap di usia 20 tahun. Baru setahun lalu. Sementara jarak dari berhijab hingga menjelang waktu itu, aku masih mencari-cari bentuk Islam itu dan bagaimana hatiku. Akupun kembali pada masalah hati, dibuat bingung pontang-panting. Bukan hanya orang lain yang dibuat kewalahan dengan hatiku. Akupun sendiri mengalaminya. Maaf, ya.

Bagaimana aku menyusul mereka yang memang terlahir dalam keadaan iman yang sudah baik? Keluarga yang sudah terjaga? Dengan hafalan yang jauh lebih banyak? Dengan kemampuan dan nikmat yang terbuka lebih lebar? Setiap mengingat itu, aku menangis. Rasa putus asa dan pesimis. Tapi, itu dilarang, bukan? Maka, aku belajar untuk tidak banyak sedih dan lebih banyak berdoa dan berusaha. Allah...

Aku bersyukur setidaknya, hari ini, rasa iri keduniawianku sedang menyusut. Sedikit melegakan. Dan kemarin aku menemukan lagi hadits yang menyanjung penyakit demam. Aku teringat doaku pada Allah ketika mengetahui hadits ini, “Ya Allah, aku ingin demam setiap hari jika memang demam akan menggugurkan dosaku yang lebih banyak dari buih lautan itu.” Alhasil, aku diberi-Nya demam itu. Tapi dengan kadar yang pernah tinggi sekali. Dan lagi-lagi aku berdoa dengan redaksi yang sama. Akan tetapi, dengan tambahan, “... hingga batas kesanggupanku.” Dan alhamdulillah, demamku tidak terlampau tinggi. Ada banyak orang yang sering menanyakan mengapa tubuhku hangat bahkan panas. Aku hanya tersenyum. Dan jika dikaitkan, aku menginginkan rasa iri dan cemburu yang sedahsyat-dahsyatnya untuk suara Alquran, hafalan, amalan, dan ilmu mereka yang lebih itnggi itu. Itu jauh lebih baik dan bermanfaat dibandingkan aku harus iri dan cemburu dengan... ya, tahulah. Belum tentu juga itu benar-benar nikmat. Bisa jadi itu istidraj, bukan?

Aku sedih sekali saat kemarin murobbiku memintaku untuk mencari dan mengajak orang-orang lain untuk masuk ke dalam dakwah. Aku menangis di hadapannya dan teman-teman. Malu-maluin! Tapi, apa mau dikata. Aku sedih sekali jika mengingat kesibukan duniawi dan juga kelemahanku untuk mendekati orang lain. Momok besar! Subhanallah. Kepada Allah saja kekuatan ini kuminta.

Aku sedang terpikir kata-kata beliau pula bahwa sebagai seorang yang mengaku sebagai hamba Allah yang menginginkan berjumpa dengan-Nya, tidak sepantasnya hanya memperbaiki hijab saja. Aku kepikiran dengan hal itu setiap harinya. Sejujurnya, berhijab lebar bukan sesuatu yang tanpa beban bagiku. Dan bukan pula sesuatu tanpa pertaruhan. Namun, untuk saat ini, inilah kadar kemampuanku. Aku baru bisa mengumpulkan uang sedikit-sedikit untuk memperbaiki hijab di mana tidak didukung oleh orang-orang terdekat. Lalu, dengannya aku sedikit kesulitan dengan masalah pekerjaan dan pergaulan. Itu yang bisa kuhadapi untuk sekarang. Sementara yang lain, sedang kuusahakan.

Kadang terlintas, “Could I take a rest?” Tetap saja jawabannya, TIDAK. Tidak ada.

Bandarlampung, 7-5-2013
Pukul 00.00 WIB
Keep smiling... Laa tahzan... Innallaaha ma’anaa... (Q.S. At-Taubah : 40) :-)

Senin, 06 Mei 2013

Jumat, 03 Mei 2013

sesar

parasmu serupa ukiran senja.
kapankah kita bertemu ataukah kita
pernah terpisah. kulahir melaluimu
antara decakan ikan yang larung.
terambing dalam ombak. tertangkup
di bakau. sesar bermekaran di
kulitmu. bolehkah kuraba? selembut
zamrud yang diam, kautolak aku
ketahui tentangmu.

Bandar Lampung, 3513, 2151
Prima Helaubudi

Kamis, 02 Mei 2013

Basing-basing audja.

» 2 Mei 2013, sesi terabas eyd coz males ngetik.

Ini udah hari entah kesekian berapa aku insomnia. Such as thing like other humans had forgotten about it : nikmat terpejam (entah deh itu bener gak bahasa linggisnya).

Tadi sebenarnya peenaaat banget dan pengen numpahin semuanya di blog ini (numpahin aer, bu?). Makanya ini udah gak pake eyd lagi. Tapi, gak jadi. Why? Simple. Aku bukan abg labil alias ababil yang keterlaluan ngeluh gitu. Setidaknya masih ada seciprit rasa malu di hati. Ini bukan ajang ngelimpahin kekeselan yang purna. Lagian, kalo semua keluhanku, permintaan, kesedihan, dan pikiranku di tuang di sini, bisa gak habis. Haha. Tempat numpahin kesel ya ke Allah. Mulai dari minta rizki, jodoh, buku, hujan berenti, sampe kematian yang baik. Jadi gak parah-parah amat ngeluhnya. Cukup hal-hal purna aku dan Allah saja.

Well, yang pasti lagi banyak masalah belakangan ini. Mungkin ngeluh di sini aku pikir-pikir mana yang kira-kira mashlahat. Minimal agak bener buat dibaca anak orang. Haha.

Setengah bulan ini mulai fokus jualan. Hadoh, capek. Tapi seru coz maennya kelompokan.

Bising. Serius bising. Saya sampe geleng-geleng kepala ada orang yang workaholic. Ampun. Ini ngeganggu beud. Secara, waktu ibadah, baca, ngerjain tugas, dll jadi kebantai. Allah..

Tapi ada aja yang nyemangatin. Ngeliat mama capek, tuntutan mama buat keluarga (birrul walidain), kebutuhan kuliah yang gak bisa aku penuhi dengan keseluruhan uang saku, pengen bantu kawan, dan tuntutan dakwah semakin berat. Rabbi.. Capek.

Herannya tiap mau nyerah, Allah gak biarin aku nyerah. Ada saja peringatan-Nya. Pada awal, aku iri sekali pada beberapa orang. Dan ini keirian yang gak syar'i banget karena ini masalah dunia. Alhasil, pada titik kulminasi, aku duduk di dalam mushala, merenung. Aku mengirim pesan pada beberapa orang perihal kondisi hati. Di sela-selanya aku nangis dong... Ada dua alasan: pertama, aku tahu hukum iri pada hal keduniawian dan akibatnya. Kedua, ngerasa hina banget.

Akhirnya, aku disadarkan--atau tertampar, tepatnya--oleh sebuah tausiyah berlandaskan Q.S Al-Balad pada ayat mengenai jalan dakwah. Ya, ini risiko. Di jalan dakwah mana ada ip 4? Mana ada tropi, uang? It is not! Kita manusia emang tahu apa nilainya? Mana adanya?

Aku diingatkan kembali kenapa jalan dakwah ini sulit. Ya karena ini qadarullahnya. Mana ada jalan dakwah mudah. Menanjak dan sulit! Ditambah amal tidak terlihat. Godaan besar.

Aku juga menilik keadaanku. Hem, selama hidup mungkin aku cenderung banyak ikut kata ortu. Hingga suatu ketika aku bertanya, "Apa yang aku inginkan?" Aku me-list puluhan ingin. Sayang, hanya angan.

Kalo di matematika ekonomi--yang bikin sengklek otak--ada yang namanya optimasi berkendala. Makin banyak kendala dan variabel makin nobat nyelesainnya. Nah, itu perbandingan orang beriman dan tidak!

Allah gives what i need!

Kemudian, tep, aku sadar. Ternyata karena suatu dosa, keacuhan hatiku tentang dunia memudar. Biasanya aku cuek. Biar aja diaorang spp juta-jutaan, les sana-sini, dsb. Aku adanya ini. Mau gimana?

Let me continue..

Aku teringat beberapa hal. Aku pernah meminta pada Allah pintar masak, berpenghasilan. Lalu Allah kabulkan lewat kesulitan ini.

Lho kok?

Ya ya dong! Gara-gara kejebak kkn di belantaran hutan way kanan aku kaget ketika tahu mama hampir hanyut saat banjir. Pulang mau ngurus beasiswa sakit. Titip kawan gak diurus. Kepepet. Bisnis. Cari uang walaupun sedikit. Setiap produksi harus masak.

Alhasil, masakanku AGAK layak makan.

Kausalitas.

Hem, well, malem-- eh, pagi ding--ini aku lagi gak pengen nangis gak sanggup beli buku atau fotokopi buku pegangan kuliah, atau gak ada uang buat kuliah. Never mind.

Gimana ya dakwah ke depan? Di keluarga sendiri, aku 'kayak gini' sendiri. Mau dakwah, kebentur pulang magrib mulu. Mama minta aku kerja padahal aku tidak mau. Dapet pasangan shaleh yang membantu dakwahku? Entah.

Haish,haish. Terserah deh orang-orang itu bergelimang harta, atau really visioner buat nyiptain sikon dia. Aku cuma tahu yang relatif pasti adalah aku hanya bisa take whatever halalan toyyiban saat ini.

Aku berterima kasih pada Allah diberikan orang-orang yang ikut berproses menjadi baik bersamaku. Bukan diberikan orang-orang sombong berkehidupan sempurna yang gemar caci-maki tapi buta kekurangan sendiri. Rasulullah punya sahabat. Kenapa kusinggung? It means aku kasian beud sama mereka yang meniadakan kepercayaan dan sahabat. Apalagi sampe nikam belakang. Ckck. Gersang amat itu hidup?

Apa yang bakalan terjadi ke depan? Ayo disongsong! Prima bisa! Prima kuat. Makanya dikasi Allah cobaan. Atasi iri keduniawian, kemarahan pada sikon, dan hal-hal negatif lain. Semua telah ditakdirkan-Nya. Terima ketentuan tersirat itu dengan berjuang sebaik-baiknya.

Let it flow with your brave to moving! I'll be alright. Bismillaah!
(bahasa linggis cadang).

Diliat dari sikon mata masih terang agaknya. Alamat begadang (lagi). Minum kopi asoy mungkin.

Oh iya, di atas zona abu-abu. Ambil baiknya, buang buruknya. Filter ya.. ~~~

Rabu, 01 Mei 2013

Ada yang lebih mengerikan dari
perbedaan organisasi, yaitu
perbedaan manhaj.
Ada yang lebih mengerikan dari
perbedaan fikih, yaitu perbedaan
aqidah.
Ada yang lebih mengerikan dari
kafir yang memusuhi Islam, yaitu
kaum munafiq.
Ada yang lebih mengerikan dari
jumlah yang sedikit, yaitu ibadah
dan doa yang sedikit.
Ada yang lebih mengerikan dari krisis harta, yaitu krisis iman.

Wallahu'alam. Wallahul musta'an.

*muhasabah kecil malam ini. selamat datang malam. kujamu engkau dengan segelas kopi di ujung lembaran waktu di mana cinta bersemi*

30-4-2013