Sisa Air Hujan (Soni Farid Maulana)

Sisa Air Hujan

Jika bukan karena gejolak rindu, jika bukan
karena pucuk daun pandan menurih dinding hatiku
di gelap malam, dinda, apakah bendungan air mata
bisa bobol? (Sisa senja dalam ingatan begitu nyata)

Ribuan kelelawar negeri kegelapan serentak terbang
entah ke mana. Hawa nafsu seperti ladang hijau yang luas,
jutaan hewan liar dan purba dengan mata merah saga
mengincar kalbuku tanpa henti. Akankah aku dimangsanya?

“Kanda, wajahmu serupa bunga cempaka yang gugur
ke merah tanah. Sisa air hujan belum mengering di ujung
tapak kakimu. Apa yang kau renungkan sehabis sisa usia

tinggal sekedip nyala lilin?” (Betapa aku merindukan
cahaya di balik cadar cahaya yang berlapis-lapis. Akankah
aku sampai?) “Dinda, tuntun aku ke sisi kanan Baitullah!”


Soni Farid Maulana
2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati