Postingan

Menampilkan postingan dari 2010

Menghargai Profesi Orang Lain

"Aku hanya menyungkurkan kepala di kedua lutut lemahku.
Aku hanyalah seorang pengumpul kapas.
Namun, apa daya?
Kebutuhan hidup memaksaku untuk mengapai tingginya batang pohon yang menjulang."

Seringkali dalam dunia dewasa yang individualistis ini, hidup hanyalah hedonisme semata di mana hanya ada 'aku' dan 'aku'. Manusia terbiasa menyicukkan dirinya sendiri dan menutup mata akan derita orang lain. Di sisi lain, sesungguhnya banyak manusia yang membutuhkan uluran tangan orang-orang beruntung.
Kalau ada seorang manajer perusahaan besar, maka dialah yang menjalankan hampir keseluruhan perusahaan dan mulai berpikir bahwa tanpa dia, maka orang lain tidak bisa terhindar dari pengangguran akut masa kini. Tapi, benarkah demikian? Mengapa ada kesan 'Tuhan lain'?
Kecenderungan kita bosan dengan kata-kata, "Dunia ini memang tidak adil, kawan." Namun, benarkah demikian? Sebenarnya, mereka yang kurang beruntung memang cenderung dipandang sebelah mata oleh m…