Rasa Iri Itu Adalah Tentang Sebuah Pilihan

by Prima Helaubudi on Saturday, August 20, 2011 at 7:36am ·

Matahari terlihat ruam pudar di pagi hari ini. Aku berbahagia masih diberi-Nya kehidupan dengan decakan nafas yang kuhela.

Aku beranjak mencari segenggam inspirasi dan semangat mumpung hari ini aku tidak demikian sibuk. Mencari setitik cahaya guna mengobarkan semangat.

Kubaca sebuah note indah seorang kawan di jalan ini. Dia yang bingung dengan bulir-bulir pilihan di hadapannya. Aku mengernyitkan sebelah alis dan mengubah ekspresi sendu lewat mataku. 'Duh, bahagianya mempunyai banyak pilihan.'

Sedikit bercerita, kawanku satu ini memang cerdas hampir di segala hal. Dan sreep, rasa sakit purba itu datang. Apa namanya? Rasa iri.

Aku yang memang ekspresif langsung berkabut rajuk. Bertanya-tanya dalam hati kemungkinan betapa kurangnya diriku. Atau betapa lebih dirinya.

Aku bertanya-tanya. Bagaimana rasanya punya banyak pilihan yang dapat mengubah hampir keseluruhan masa depanmu terlepas dari sampai atau tidaknya biduk umur.

Ketika tahun lalu aku bertanya, seorang kawan menjawab deskripsi satu kata, bingung.

Dalam hal ini, aku masih akan menjawab hal yang sama dengan senyum pahit tersungging. "Bersyukurlah kau diberikan pilihan. Betapa banyak orang diluar sana yang lebih tidak beruntung dan tidak mempunyai pilihan seperti dirimu."

Ah, kata-kataku tepat seperti bumerang suku Aborigin yang tepat mengenaiku kembali setelah dilempar. Aku mengingat kembali bahwa Allah memang selalu melebihkan makhluk-Nya terhadap makhluk yang lain. Bukan hanya sebagai nikmat, tapi juga ujian apakah mereka bersyukur.

Dan bisa jadi, buai-buai keinginanku adalah hamparan gurun kering penyesalan nantinya. Tahu bukan? Yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita.

Mengingat kembali sedikit cuplikan tausiyah.
"Berbahagialah ibu. Ibu telah berhasil menghadapi ujian Allah Subhana Wa Ta'ala berupa kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, saya khawatir saya tidak dapat menghadapinya sebagaimana sikap ibu..."

Demikian ujar Abdul Fattah Abu Ismail, salah seorang murid Imam Hasan Al Banna. Aduhai, imannya. Jauh membuat iri dari hal-hal yang mengirikan hati. Subhanallah. Tak terasa air mata ini menetes dari manik mata.

Aku mengingat lagi untaian perjalananku. Aku selalu punya pilihan. Tapi, setiap kondisi hampir tak pernah memberiku ruang memilih hal yang sangat aku sukai. Ruang yang dipilihkan untukku adalah ruang sesak yang kurang atau bahkan tidak kusukai. Kembali, ini yang terbaik dari-Nya.

Man shabara zhafira.
Insya Allah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati