Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2013

Puisi - unggun

unggun

matamu begitu unggun; hangat. sungguh takkan pernah sesuai dengan mimik dinginmu saat bertemu denganku. aku tak tahu mana yang harus kupercayai. isyarat matamu yang penuh bara, ataukah paras dinginmu membuluh perasaan.

malam ini, lilin adalah bulan tampak di wajah tirusmu yang kian memucat. kau memang pucat; bercahaya muram yang dalam.
kau suguhkan lagi sebungkus kasih di atas piring ingatan. aku terus menerka, mata atau mimikmu yang memancarkan sesungguhnya.

aku masih di tempat yang sama. menatapmu dalam. tak seperti dahulu, mungkin, bisa engkau raba dan kecup. kini aku menjadi bayang yang menari di bawah ransum hidanganmu. menunggu patahan kata.
isyarat, terpecahlah untukku. dari dia yang bagai teka-teki malam. namun hati, tak bisa berpaling.
kamulah keindahan.


Sumber Sari, Banjit, Way Kanan, 29-1-2013 pukul 00.10 WIB
cepatlah hadir, kumohon.

Braja

Braja yang kuat, letakan sangkurmu
horison kian menyapamu meskipun rendah di bawah ketinggian
bagaikan anai-anai memang
tapi khianat mata juga lekat padamu
kata-kata Braja memang selalu untuk yang Satu,
"dia memang hanya ada satu. di antara kerudung hitamnya, aku mengintip"
dan kisah Braja tak pernah usai
saudara dan rekan ada di dunia yang sama
berebut horison dan perhatian
mungkin Sirius atau Cassiopea bisa purna bersatu
namun Braja sesungguhnya tidak dapat bersatu
berebut pedar, jutaan air mata
itulah penghias sabuk asteroid
dan bumi hanya mengoleksi satu-persatu
Braja menunggu, jatuh cinta pada yang Satu
pada yang terperangkap dalam daya tarik bumi
"tunggulah. aku yang akan melampirkan kerudung hitam itu"
B. Lampung, 16-1-2013
-braja-

Gak Perlu Nyindir

diberikan rasa simpati palsu itu sama menyebalkannya dengan diminta untuk memberikan rasa simpati palsu pada orang lain.
jujur, saya paling tidak bisa demikian. kalau mau menuntut melakukan hal tersebut, tolong sangat, cari orang lain saja, ya.
tidak perlu berharap dan menyindir seperti itu. sebab saya dididik dilarang gila perhatian. jadi kalau mau perhatian lebih, jangan andalkan saya.

Setelah Jadi

ada orang jadi permisif setelah mempelajari filsafat.
ada orang jadi ateis setelah mempelajari filsafat.
ada orang yang jadi bertambah taat setelah mempelajari filsafat.
ada orang yang bijak mempelajari filsafat.
maka, kata seorang ulama -aku lupa siapa dan di buku mana dapatnya-, kalau bertemu filsafat, pastikan belajar aqidah dulu, filsafat, lalu terakhir aqidah lagi agar still on the track. tidak boleh terlalu ditekuni juga karena akan kosong hatinya.
saya setuju sekali. bahaya. ada sisi-sisi aqidah yang sangat bisa melenceng kalau tidak dibentengi.
Allah memang tetap memberi pengajaran paling mudah, sebenarnya. tinggal, manusia mau berpikir atau tidak.

Beda Hitam dan Putih

Hitam dan putih itu jelas berbeda. Ketika bertemu dengan abu-abu sebaiknya kita menyingkir.
Ada dan tiada itu berbeda. Bersebelahan, tipis perbedaan, tapi tidak mungkin menjadi satu. Satu sama lain membinasakan.
Manusia memang abu-abu. Tapi manusia bisa memilih dan berupaya jadi hitam atau putih. Bukan justru menerima hitam-putih sekaligus, lebur, tanpa usaha dan aturan.
*tidak setuju bagian filsafat yang ini dari pemikiran seorang tokoh*

Rumi #1

saat kita masih kanak
kita dengarkan guru kita
kemudian kita lanjutkan belajar
dengan menduga wajah teman
coba pahami apa terjadi saat teman bicara terhenti
kita datang seperti mega
tapi pergi seperti angin


Rumi


Sumber : Rubaiyat Rumi, Insane with Love, Terjemahan bahasa Indonesia oleh Bakdi Soemanto

di bumi

di bumi


di bumi yang hancur saat rasa dan segala terburai gempa
tak ada lagi rumput dan sukatan
perintah dari raja diraja
terantuk jua jadi para-para
cukup ingat, pernah jadi bumi
lalu bumi akan runduk
mulia pada kehinaan

titik dan titik

semuanya berawal dari titik. titik menjadi garis dan baris. saat engkau terseok dalam rintik, berhenti, tak tahu memulai. buatlah titik lagi. dan kau akan memulai segalanya.

rindu

Akhirnya tak tertahan untuk menangisi hal itu. Aku rindu.

Kutub Magnet

Aku dan ayah diibaratkan kutub magnet.
Sama-sama keras kepala.
Sama-sama pemegang teguh prinsip yang geming meskipun ditentang. Sayangnya, prinsip yang kami pegang bertolak belakang. Akibatnya kami sering bertengkar.
Sama-sama blak-blakan jika tidak suka sesuatu.
Sama-sama diam seribu bahasa jika benar-benar menyukai sesuatu.
Sama-sama banyak bicara 'suka' dan sejenisnya jika ragu memang suka atau tidak.
Sama-sama tidak mau mengalah.
Sama-sama berharga diri tinggi.
Sama-sama payah mengungkapkan perasaan.
Sama-sama sulit dipahami.
Kami seperti sepotong batu yang masing-masing kuat. Jika dipukulkan satu sama lain menghancurkan.
Kami seperti dua benteng besar yang berperang dingin jika berada dalam satu ruangan.
Tapi, karena itulah aku begitu 'dia'. Bagaikan kutub magnet, maka kami tetap terbuat dari material yang sama. Kesamaan materi dan perbedaan kutub membuat kami seimbang.
Kini, setelah hampir 2,5 tahun kepergian beliau kusadari bahwa beliau salah satu alasan membuat…

ANGKA SATU

ANGKA SATU
susunan rangkamu telah kupugar,
susuran barismu telah kuracau,
tapi kau tetap kembali,
purna menjadi angka satu,
angka satu,
hikayat kelahiranmu tak pernah aku tahu,
entah siapa yang menyebutmu; angka satu.
saat jiwa tak lagi punya jiwa,
saat raga tak bentuk menjadi raga,
kamu tetap ada.
kamu tetap angka satu,
kesempatan sebelum cabut nyawa.

Prima Helaubudi
B. Lampung, 9-1-2013
satu.

Efek Materi #1

Sudah dibuat hukum tapi manusia
yang menjalankan hukum sering
melanggar dan melakukan
ketidaketisan. Mengapa?
Karena manusia itu tidak ada yang
dapat 100% bersih dan selalu
bertindak etis. Sehingga diatur
sedemikian rupa pun pasti ada celah untuk melanggar.
(pertanyaan, jawaban, dan
pernyataan dalam materi yang
dipelajari)
Pertanyaan saya :
Loh, terus kalau tidak ada manusia
yang 100% bersih dan etis, kenapa
manusia membuat hukum? Katanya hukum suatu sistem sosial,
konstitusi, dan birokrasi buatan
manusia selalu bercelah untuk tidak
etis?
Tanya kenapa?
(kalau jawabanku pribadi sudah
teguh)
*efek baca materi hukum bisnis.
terima kasih. keyakinanku
bertambah teguh justru^^*
B. Lampung, 9-1-2013

Pendapat Adjah.. :-D

Mumpung kuota belum habis,  tinggal dikit lagi.. :-D

Sedikit brainstorming yang penting gak penting:
Apa sih bedanya ngomong di dunia nyata dan di dunia maya? Paling bedanya di dunia maya bisa buat
'kepribadian baru'.

Apa sih bedanya chatting dengan kawan, lawan jenis, misalnya, dengan SMS? Paling bedanya media
doang.

Setelah dipikir-pikir, overall 70% sama. Jadi, saya menyukai pendapat beberapa orang dan artikel yang
berlandas dalil shahih mengenai berdua-duaan dan bercampur baur secara maknawi, di dunia maya.
Bahwa nash-nash syar'i sesungguhnya patut pula diterapkan dalam komunikasi 'tipis batas' ini.
Yang mudah saja, gak kasar kalo ngomong, mendebat, pakai kata-kata baik. Sederhana.
Habis nyatanya, sama juga. Lewat dunia maya banyak yang kopi darat, dibawa larian (capek geh), dan lain-lain.

Dulu sih pendapatku, "Udahlah. Santai aja. Kayak gitu kok repot." Tapi sekarang kalo inget diwan (catatan amal) yang mendetail sampai hal-hal remeh-temeh dicatat...…

Curhat #1

Aku takkan membeberkan apa yang terjadi padaku di dunia nyata secara lugas.
Tiga tahun ini aku menghancurkan diriku sendiri. Seseorang yang baru menjadi sahabatku bertanya ketika tahu sekelumit masalah asliku, "Aku penasaran apa yang terjadi padamu, Prima. Kamu bercerita begini dan begitu. Tapi di luar kamu tampak begitu biasa-biasa saja."
Lalu, aku harus apa? Aku sudah cukup bosan di awal kehidupanku jadi orang yang tak bisa bicara. Lalu, kamu bisa apa? Sekian orang yang benar-benar tahu pun angkat tangan.
Kemarin, aku belari sambil menangis..
Karena tiga tahun lalu, aku masih tahan..
Sekarang, aku terlalu lelah untuk berlari. Bahkan terlalu lelah untuk menjadikan kehancuran ini semangat.
Aku melihat mereka yang baru saja mulai mengalami apa yang telah aku rasakan. Dan mereka pikir mereka adalah orang yang paling menderita di dunia. Mereka enggan bercerita padaku. Mungkin mereka pikir karena aku tidak pernah mengalami apa-apa yang mereka alami.
Apakah aku penyembunyi yang b…