KETIKA (Acep Zamzam Noor)

KETIKA


1

Ketika gempa yang begitu sopan
Menggoyang kampung kami
Kudengar semua nyanyian, semua tarian
Yang tengah digelar di halaman kelurahan
Menjadi senyap. Semua serangga, semua satwa
Semua rumputan, semua tumbuhan dan pohonan
Bahkan semua kata yang terucap, kalimat yang meluap
Amarah yang membumbung seperti asap
Mendadak bisu. Semua mengendap

2

Di kamar sempit kami yang apak dan dindingnya retak
Yang lampunya lindap karena kekurangan minyak
Di ranjang kami yang engselnya longgar dan bantalnya lusuh
Di mana segala desah dan lenguh, segala keluh dan kesah
Terasa begitu jauh. Bahkan segala sumpah dan serapah
Segala ratapan dan jeritan yang ditingkah bunyi kentongan
Terdengar hanya sayup. Kulihat malam menyeret terompahnya
Dan subuh berlabuh pada pelupuh. Kusaksikan cakrawala yang jauh
Kemah-kemah awan yang bergerak pelan dengan semburat kemerahan
Yang kemudian menyelimuti punggung lelaki bungkuk dan sakit-sakitan
Punggung lelaki yang bernama ufuk. Tiba-tiba kami rasakan kembali
Guncangan kecil itu, hentakan pendek itu serta sodokan lunak itu:
Di mana waktu kehilangan langkahnya, menit ditinggalkan detik-detiknya
Dan jam menggenang seperti comberan. Di mana ingatan berlepasan
Pikiran berloncatan dari sarangnya, perasaan menguap begitu saja
Di mana harapan dan keputusasaan tak ada bedanya, hidup dan mati
Begitu tipis jaraknya. Di mana ruang dan waktu terlempar dari porosnya
Langit dan bumi berangkulan seperti sepasang kekasih yang lama
Tidak berjumpa. Di mana sunyi bertahta di atas singgasana

3

Ketika gelombang pasang yang tak ramah
Menyapu daun-daun kelapa dan atap-atap rumah
Ketika angin puting beliung menerjang sawah dan kebun
Merobohkan surau dan madrasah, menggusur sekolah dasar
Dan puskesmas yang terlantar. Kulihat ikan-ikan berterbangan
Ayam-ayam berlarian, sapi dan kambing mati di kandang sendiri
Hansip-hansip menerobos reruntuhan dengan senter dan patromak
Mencari mayat-mayat. Keesokan harinya tentara dan polisi datang
Menggali lubang besar untuk mengubur mereka bersama-sama
Sebelum membusuk. Lalu gempa sialan itu mengguncang kami lagi
Lalu air bah kurang ajar itu menerjang kami lagi. Semuanya lewat
Juga silsilah panjang kami yang tercerabut dari akarnya yang dalam
Semuanya berlalu, juga sejarah yang terpaksa kami biarkan pergi
Entah ke mana. Dan semuanya harus kami relakan untuk tidak kembali
Semuanya, semuanya. Juga keberadaan atau ketiadaan kami ini

4

Aku tidak mengenal musim dan cuaca, lupa tanggal dan nama hari
Hanya tahu bahwa masih ada siang dan malam, ada gelap dan terang
Susah dan senang. Sudah lama aku tak peduli pada baik atau buruk
Pada salah atau benar, hina atau terhormat. Kerjaku hanya main domino
Bertandang dari tenda ke tenda, dari barak ke barak, dari posko ke posko
Hingga kutemukan kembali istriku yang kurus di sela tumpukan kardus
Lalu kami bercinta sambil menunggu giliran masuk kakus, kami bercinta
Sambil mengantri pembagian nasi bungkus, kami bercinta sambil pawai
Merayakan hari kemerdekaan atau sambil berdesakan melihat kampanye
Di kecamatan. Atau sambil menunggu giliran mencoblos di bilik suara
Ah, di tengah semburan lumpur panas kami masih disuruh memilih lurah
Bupati, gubernur dan presiden. Kami disuruh memilih salah seorang
Dari mereka yang suka membagikan kaos, poster, spanduk atau sembako
Salah seorang dari mereka yang wajahnya terpampang di mana-mana
Namun tidak kami kenal dan suara mereka tidak pernah terdengar:
Biar gampang kami pilih saja yang kumisnya paling tebal

5

Di bantaran sungai yang landai, di atas tumpukan sampah yang bau
Gubuk masa depan kami terangkat ke udara, melayang-layang sebentar
Lalu rubuh dan hanyut. Banjir selalu datang setiap tahun, kebakaran
Terjadi setiap bulan, sakit perut berkunjung saban minggu, kelaparan
Dan kemarahan menjadi teman sehari-hari. Sekian lama kami terlunta
Sekian lama mengembara dari kolong jembatan ke bekas gerbong kereta
Namun selalu saja punya alasan untuk tertawa atau menertawakan
Setiap keadaan. Kemarin ada tetangga jatuh dari atap bangunan
Tersangkut di kawat listrik tegangan tinggi. Kemarinnya lagi ada mayat
Mengambang di sumur. Tadi malam anak sulung kami ditangkap polisi
Yang nomer tiga kena flu burung. Lalu dari toko elektronik sayup terdengar
Seorang presiden yang suaranya merdu tengah menyanyi di televisi
Mungkin tentang pelangi yang menghilang dari mata kami




2007.
Acep Zamzam Noor

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati