Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2014

Fragmen #19

Jangan menunggui kehilangan. Sebab kamu akan sangat merindukannya hingga bosan adalah biasa.
__tanggal tidak dicatat
#
Sepele itu adalah saat kamu baca buku tidak ada biografi, catatan kaki, daftar pustaka, isinya curahan hati, dan bahasan yang digarap (katanya) ilmiah.
__tanggal tidak dicatat
#
... Because your capital in your life is your time which Allah gives. Do not waste it in vain.
__14082014
#
Tanyakanlah pada dirimu sendiri alasan kamu sering tidak baik. Apa alasan utamanya? Bukankah nafsu (buruk) bodohmu sendiri yang meminta kamu malas dan berimplikasi pada kinerja hidup (fana) milikmu ini? Mau akhirat bahagia? Lucu!
__15082014
#
Jadilah orang yang siap mendapatkan amanah hidup! Apapun itu! Semangat!
__15082014
#
Bermusuhan dengan orang lain adalah pertarungan. Berkonfrontasi dengan diri sendiri adalah peperangan.
__15082014
#
“... Resiko* ketidaktepatan asumsi...”
Padanan yang bagus. Kemudian timbul pertanyaan sederhana, “Bagaimana jika asumsi yang kuciptakan adalah bahwa asumsi tidak pernah …

berteduh

berteduh

berteduh aku di balik rimbun,
hujan di senja hari
membawa hanya
satu warna mengudara
satu nafas, dan satu hempas

beberapa kali aku berteduh
di bawah pohon yang sama
atap yang sama
payung yang sama
di waktu yang berbeda
semua terasa meresap

menyerpih
merajuk
hingga lepas titik temu
pada mata kaku
terluka dan mematah
titik pada pucuk ilalang
berbatasan dengan malam
terlupakan

sesuka-sukanya
diriku harus pergi saat
matahari kembali mengudarakan
sebuah kata bernama: hangat
kita hanya terjebak tenggat
maaf yang kilat

Bandarlampung, 20-8-2014
Prima Helaubudi

*entah apa :D*

Cuaca Hari Ini

Cuaca hari ini sedikit aneh di kulitku. Entah apa yang membuatnya begitu berbeda. Mungkin karena kini Bandarlampung, Indonesia, sudah mulai memasuki musim penghujan. Sekarang bisa jadi pancaroba. Di balik jendelaku beberapa kali waktu menunjukkan persilihan antara panas dan hujan yang demikian ekstrem.

Aku terbangun dan merasakan meriang hebat dikarenakan sebuah kodrat menjadi perempuan. Rasanya itu, seperti dipukuli. Tengkuk leher terasa sangat tegang.

Aku memang sedikit bermasalah dengan cuaca dingin; penghujan. Aku suka dengan cuaca yang dingin, iklim yang dingin. Sayang, justru aku sakit-sakitan dikarenakannya. Paradoksial. Lihat saja hari ini.

Tapi entah mengapa hari ini ada impresi berbeda. Ada sesuatu selain hawa sejuk nyaman yang kusukai. Ada yang lain. Begitu lembut. Begitu penyayang.

Mungkin hanya perasaanku saja. Tapi sekian hingga malam ini catatan kecil ini kubuat, aku merasa nyaman yang lama. Apa yang salah? Apa yang benar? Maksudku, apakah keganjilan ini benar adanya? A…

Nuansa Hening

Nuansa Hening
Aku meminta kepadamu sejenak untuk berhenti mencibiri hari. Katamu, ia datang dengan ransum perintah-perintah yang tak pernah kauminta. Celah jemarimu telah banyak membukakan pintu bagi para menagih hutang, atasan yang murka, hingga barisan setrikaan tidak rapi. Ah, mungkin hening tak lagi menemukan sarangnya di balik waktu-waktu kita. Akibatnya, ia pergi; meninggalkan kita sendiri. Serupa dengan hubungan yang ditinggalkan tepat sebelum dimulai.
Aku-kamu, kita, sama-sama mengaitkan kedua jemari masing-masing. Memasang dan memajang posisi berdoa berharap hari segera berakhir. Seolah dijamah doa kita—padahal sejujurnya aku juga tak mengerti apa yang kudoakan—angin berdesir dari barat menyiurkan asinnya air laut. Kamu lagi-lagi marah dengan kata-kataku dan menyelanya dengan kesimpulan logismu, “Laut hanya kumpulan garam. Kaudapat bahkan dapat membuatnya kembali ketika memasak.”
“Aku tak berdoa.” Aku mengakui yang kurasa, kupikir, dan memang sejujurnya aku lakukan. Aku memas…

SDM Daisuki!

SDM Daisuki!
*Bismillah.. Catatan ini penulisannya induktif sih.. Jadi, intinya di akhir.. Tapi bagian awal menurut saya untuk meruntut kenapa saya berpemikiran begini (agak) penting...
“Gue nggak ngerti SDM itu ngomong apa, Prim.” Itu yang sering aku denger saat mengajak teman-temanku sesama jurusan manajemen untuk ambil SDM. Semua yang gagal kuajak beralasan yang satu ini. Ini sih bagiku wajar aja.. Soalnya kalo di ekonomi jelas yang sering dipelajari adalah hitungan. Dan alhasil, meskipun SDM adalah jurusan dengan taburan nilai A di mata kuliah konsentrasinya, yang masuk konsentrasi ini sedikit. Di angkatanku, cuma ada 15 orang awalnya. Makin ke sini jadi cuma 12 orang yang keliatan terus-menerus.
Kenapa saya memilih konsentrasi ini? Pertama, kalo masuk konsentrasi keuangan, saya nggak seberapa kuat hitungan. Tau diri aja. Meskipun sebenernya bisa aja sih kalo diusahain. Cuma gak punya keinginan di sana. Kedua, kalo masuk ke pemasaran, saya emang lumayan cerewet. Tapi saya nggak punya…