Api Putih (Inggit Putria Marga)

Api Putih

sebenarnya aku tak pernah ingin memeram dendam padamu, tapi ulahmu lesapkan nyawa kawanku telah membuatku sepi dan sering bengong terpaku.

kerap teringat saat di suatu akhir pagi kami main jungkat-jungkit di pekarangan rumah gepi: teman yang sampai usia enam tahun belum bergigi. kau datang padahal entah siapa yang mengundang. langkah besarmu tenang mendekati kami yang seketika segemetar sapi di tepi jurang.

di hadapan kami, kau ceritakan hal-hal yang lebih indah dari mimpi-mimpi kami: kebun anggur di surga, hutan api di neraka, bidadari pemetik harpa di istana bunga, setan yang mendebu di kulit tubuh manusia. sembari bercerita kau belai kepala kami, matamu bercahaya seteduh suara manusia di pintu mati.

kami terpikat padamu, terpukau pada kisah yang bahkan tak pernah terucap dari mulut ibu. kawanku pasrah saat kau pangku. di telinganya kau berkata: ayo kita ke tempat-tempat itu. kawanku menatapmu, ia mengangguk, membiarkan kau menggendongnya ke jalan ke arah hutan. termangu aku pergi dari pekarangan, berharap tuhan tunjukkan jalan agar aku pun sampai di tempat yang terkisahkan.

saat matahari sore tak lagi bundar konde, terpencar kabar lelaki berumur enam tahun mati. perutnya bagai dikoyak belati. dialah gepi, temanku yang sampai usia enam tahun tak bergigi. tahukah kau, hatiku rumah sepi sewaktu tahu gepi mati.

aku lari ke rumah gepi. jejalan manusia bagai hutan bakteri. kata mereka, pantat gepi pun tertusuk kelamin laki-laki. aku tak mengerti. kupandang ibu gepi bentur-benturkan kepala di kursi. kulihat ayah gepi meraung berguling ke sana ke mari. aku menepi, pergi ke pekarangan, duduk tertunduk di jungkat-jungkit yang kami mainkan di akhir pagi.

sebenarnya aku tak pernah ingin menancapkan belati bapakku ke perutmu saat kau datangi aku lagi siang ini. tapi ketika kau ajak aku ke tempat-tempat yang kau kisahkan pada kami dua puluh tahun lalu, aku teringat: gepi lama lelap sendiri

di tempat yang lebih indah dari mimpi-mimpi kami.

Inggit Putria Marga
2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati