Bunyi Sunyi (Sitok Srengenge)

Bunyi Sunyi
Parafrase atas musik Tony Prabow

Bunyi-bunyi ganjil itu, kawanku, memanggilmu sampai kelu


Jiwa terkucil yang ragu, bersandar bilah bayang-bayang,
melawan arus waktu yang menderas
menggerus mimpi-mimpimu


Kibaskan rambutmu, biar debu gemerincing mengusir sepi
yang selalu menyemai di sela seloroh orang ramai


Biar gairah berpijar bagai putik bunga api,
membakar hari-harimu yang memar


Kudengar derit derita, senyaring rasa sakit paling purba,
mungkin senar-senar syaraf berdenyar didera duka,
atau raung rindu dari ruang gelap tubuh
tak tersentuh


Kata-kata gagu meniru bunyi-bunyimu, cahaya redup,
tak sanggup menjelmakan sosokmu yang gagap-gugup


Hanya hening, membentang antara damba dan hampa,
selengang padang gersang


Kau melenggang, sendiri, meracik benih bunyi:
rintih ringkik raung ricik—menjadi sunyi


Tumbuh liar di tepi-tepi, serupa lantana
merekah jingga: kelopak-kelopak luka


Bunyi-bunyi ganjil itu menyeru namamu:
derit derita, jerit sakit, denyar duka,
ringkik rindu, sengal ajal
nan kekal

Sitok Srengenge
2007

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati