#Cupis: Perisaian

by Prima Helaubudi on Tuesday, November 1, 2011 at 5:23pm ·

Hari ini aku pulang lumayan cepat. Yah, kalau pulang pukul 16.00 WIB itu tergolong cepat dari biasanya sekitar pukul 18.00-19.00 WIB dari kampus.. Hehehee…

Sesampainya di rumah, aku menonton televisi. Seperti biasa, mencari acara yang bermutu sulit sekali. Aku malas tingkat dewa untuk bertemu cerita-cerita tentang Y*** ***** yang putus dengan R**** ***** lagi. Kemudian, aku menemukan acara yang dulu sering sekali aku tonton, yaitu J*jak Petualang. Kebetulan yang ditayangkan adalah wilayah Lombok, NTB. Hem, ingatanku kembali melayang saat dua-tiga tahun silam saat diberikan kesempatan oleh Allah untuk pergi ke Yogyakarta bermain fragmen.

Diantara 33 provinsi yang mengirimkan wakilnya untuk fragmen, ada satu kelompok fragmen yang sangat aku suka. Bahkan hingga hari ini, aku masih jelas isi dan pesan yang ingin disampaikan oleh para aktor.

Apa hubungannya dengan program kesukaanku itu? Jelas ada hubungannya karena kegiatan adat yang ditampilkan terrealisasi sempurna diatas panggung dalam waktu sekita 10-15 menit.

Cerita yang mereka tampilkan sebagai berikut:

Saat lakon dimainkan, ditunjukkanlah sebuah rumah kecil dan miskin. Rumah itu menyatu antara ruang tamu, ruang tengah, dan dapur. Namun, di tengah meja makan, bukanlah makanan yang terhidang. Akan tetapi, justru lelaki paruh baya, acak-acakan, dan terpasung. Dia tidur dengan nyenyaknya di tengah meja makan tiada dosa.

Di dapur, seorang wanita (istrinya) membakar tungku dan menanak nasi. Tiba-tiba, adik ipar perempuan tersebut datang. Pada awalnya si ipar begitu bahagia melihat si perempuan dalam keadaan baik-baik saja. Namun lambat laun ekspresinya berubah menjadi raut muka yang muram durja.

Dari tokoh si ipar yang merantau jauh hingga Madura dan Jawa, bekerja dan mapan inilah kehidupan para tokoh dikuak secara implisit. Ternyata, lelaki yang terpasung diatas meja makan itu adalah berdarah raja dari sisi adatnya. Sang perempuan adalah permaisuri (sebutan untuk adatnya). Akan tetapi, ternyata sang wanita tidak dapat melahirkan keturunan. Alhasil, sang suami menikah lagi dengan total akhir 20 orang perempuan.

Tidak sampai disitu, ternyata 20 istrinya semuanya tidak ada yang memberinya keturunan. Sementara semua hartanya telah habis untuk menikah dan menafkahi semua istrinya. Karena labeling (pencapan) dari masyarakat bahwa dia adalah keturunan raja yang tidak memiliki keturunan laki-laki sebagai penerus silsilah adatnya, dia pun terganggu jiwanya. 19 istrinya menceraikannya, bahkan ada yang tidak bercerai langsung menikah lagi. Masyarakat yang terganggu pada kegilaan sang suami, memasungnya di rumah.

Sebagai seorang istri yang menjaga aib suami, sang istri membiarkan dirinya yang disalahkan sebagai orang yang mandul. Dia mengaku bahwa dialah yang menyebabkan kegilaan si suami. Bahwa dia terlalu banyak meminta harta si suami. Selepas suaminya mengidap penyakit jiwa, Sang istrilah yang bekerja menafkahi sang suami.

Sang ipar meminta sang wanita membawa suaminya ke Rumah Sakit Jiwa guna mendapatkan pengobatan agar segera pulih dari sakitnya. Namun, sang wanita enggan karena membawa suaminya keluar, terlebih ke Rumah Sakit Jiwa adalah aib bagi keluarga sang suami yang keturunan bangsawan.

Sang ipar pun marah. Sang ipar meminta si wanita untuk menyampingkan ego-nya dan harga dirinya sebagai keluarga raja. Sang ipar menjelaskan bahwa dunia, Indonesia sudah modern. Sebuah sebutan keluarga bangsawan atau darah biru sudah nyaris tiada harga.
Sang wanita menangis. Dia terlalu menghormati dan menjaga aib suaminya sehingga dia hanya diam dan enggan melakukan apapun.

Dengan rasa iba terhadap kakak iparnya, sang ipar berniat mengalahkan kakaknya dalam perisaian (adat orang NTB, dimana dua orang berkelahi dengan perisai rotan dan kayu, berpukulan) untuk merebut gelar rajanya sehingga kakak iparnya dapat terbebas dari kesengasaraan.

Sang ipar pun melepas pasung sang kakak dan membangunkannya. Keluarlah suara berwibawa laksana seorang raja dari sang kakak yang telah ditantang dalam perisaian, “Kau ingin melawanku?! Baiklah, akan aku layani tantanganmu! Kemari! Akan aku bunuh kau!!!”

Kedua lelaki itu mengambil perisaian mereka masing-masing. Mereka berpukulan dan terus bergerak keluar rumah diiringi jeritan sang wanita, menangis, mengejar, dan berusaha melerai mereka dengan segala keterbatasannya.

Aku tidak tahu, apakah kalian suka cerita ini atau tidak. Memang sih, grup yang memainkan cerita ini bukan juara 1. Tapi juara 2. Namun, entah mengapa ini adalah cerita favoritku. Mungkin dari Padang memang sangat artistic, penuh simbolik, dan tersirat. Namun, aku tetap keukeuh, cerita asal NTB ini yang paling aku sukai.
Aku sangat ingin berkenalan dengan para tokoh dalam cerita itu. Aku suka tokoh si perempuan, karena dia cantik. Rambutnya tergerai panjang sepinggang, sedikit ikal, hitam manis khas timus, cantik, dan teduh. I’m melting dah…

Lalu, si tokoh suami. Memang tokoh yang paling menyebalkan. Namun, tetap dia hanya korban dari stigma adat yang berlaku di daerahnya. Suaranya saat menjerit menerima tantangan si adik laki-lakinya itu… Sesuatu banget! Asli, sangat berwibawa. Wa-aw.

Sayang, sampai hari terakhir aku tak kunjung berkenalan. Biasalah, Prima gitu. Payah kalau disuruh kenalan duluan. Semoga mereka disana baik-baik saja :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati