OMG!!!

by Prima Helaubudi on Wednesday, May 11, 2011 at 9:58pm ·

OMG
(Oh  My Gosh!)
Berawal dari keterlambatan kami mata kuliah Pengantar Bisnis (matkul Pengabis), terjalin kedekatan diantara kami. Waktu itu, yang mengajar kami Pengabis adalah Bu Dorothy. Tidak dipungkiri lagi, yang namanya telat memang tidak baik (terutama untuk saya yang parah telatnya dan sedang berusaha mengurangi ketelatan). Akibatnya, setengah isi kelas berada diluar kelas. Bukannya sedih dan menyesal, dengan otak kriminal ala kami masing-masing (aku juga kelaperan level A waktu itu) langsung menuju kantin FISIP untuk makan secara berjama’ah^^.
Selepas itu, kamipun satu kelompok Pengabis, terkadang kalau ada rejeki lebih main dan makan bareng. Anggota kami bersifat fleksibel. Siapa saja bisa masuk, bisa keluar. Syarat utama adalah berani gila. Soalnya setiap main ada aja kegilaannya. Gak pernah normal. Hahahahaaagghhh..
Ketuplak acara makan-makan: Rosmala Dewa BM
Sekplak acara makan-makan: Prima Helaubudi
Tugas Ketuplak adalah untuk memanage urusan dimananya, dan kapannya. Tugas Sekplak adalah sendall anggota supaya ikut. Hahahahahahaaagggh… :D
***
Pada awalnya, hari ini, Rabu, 11 Mei 2011 kami dilanda kebingungan karena mata kuliah Aplikasi Komputer di mana sang Dosen tidak hadir. Katanya sih, sudah tidak ada kuliah Aplikasi Komputer. Kamipun pontang panting keleleran persis anak hilang di rerumputan depan Magister Manajemen atau biasa disingkat MM. Kami mencari kepastian dari dosen yang bersangkutan. Sebenarnya sih, kata kawan-kawan sudah positif tidak hadir dosennya. Berhubung salah satu penjaga ruang computer meminta kami mencari kepastian dari dosen tersebut, maka kamipun mengejar sang dosen biasa beredar, yakni di MM.
Huft, naas sekali ditengah cuaca panas, kering, gersang, dan tidak asri ini kami yang notabenenya sangat cantik ini harus kepanasan dan kayak orang hilang. Capek deh. Setelah itu, selain aku, Mala, Dian yang saat itu bertengger, muncullah sebuah ide gila dari otak saya dipicu oleh pertanyaan Mala.
“Eh, kapan ini kita makan-makan ke O**** (sorry sensor banyak-banyak. Gak pantes disebut merk. Ugh) kayak kata si Novita.” Kata Mala tiba-tiba. “Yaudah, gimana kalo sekarang. Mumpung gak ada kuliah juga nih.” Kataku spontanitas. “Aih, sekarang?” jawab Mala dengan wajah setengah syok. “Kenapa gak?” ujarku enteng.
Berhubung dan dihubung-hubungkan handphone Mala yang ada dua buah itu kritis baterai dan handphone Dian juga gak jauh beda, ya sudah handphone saya dah yang melanglang buana mengirim SMS ke para calon anggota kegilaan kami ini.
Setelah menekan tombol “Kirim” kepada Yohana, Nilam, Gilang, dan Hanik, kamipun dikejutkan oleh sesuatu yang dibilang bodoh, ya bodoh, dibilang lucu, ya lucu. Datanglah satpam dan penjaga gedung MM. Dengan wajah serius bin seram mereka memandang kami dengan wajah tidak suka. Malas melihat wajah begituan, aku nunduk aja deh (nyari aman).
“Duduk disini harus bayar dua puluh ribu (rupiah).” ujar bapak penjaga gedung. “Serius, Pak?” kata salah satu dari kami –yang jelas bukan aku- dengan nada setengah tidak percaya. “Iya!” tegas satpam. “Bayar dua puluh ribu per orang. Dua puluh, dua puluh, dua puluh, dua puluh, dua puluh.”
Sontak aku kaget. Maklum, mahasiswa. Dua puluh ribu itu gak dikit. (T.T) “Aduh, Pak. Serius dulu, mahasiswa nih…” ujarku melas. Tiba-tiba semua tertawa dan satpam beserta penjaga gedung pergi berlalu. Dapat ditarik kesimpulan bahwa mereka bercanda (Wew, acting seriusnya asik abang-abang itu :D).
Usut punya usut  dengan sedikit penyingkatan, Hanik tiada kabar. Dian pulang sekaligus mengantar Nilam yang baru dateng namun wajahnya persis akan pingsan dan tidak dapat ikut. Akhirnya, yang pergi adalah aku, Mala, Tica, Novita, Yohana, dan Gilang.
Dengan semangat lima watt diakibatkan gersangnya cuaca, kami menyusuri jalanan Unila. Melewati teknik, lurus ke pertanian, melewati jalan menanjak (penyiksaaan!!!) dan jengjeng… Akhirnya, angkot!!! (~.~)
Ternyata siksaan belum berakhir. Panas gila tuh didalem angkot persis di sauna (Wah, Prima sok tau. Saunaan aja belum pernah :D). Aku mendapat bagian duduk paling pinggir, diapit boneka tazmania devil yang melet-melet dan ngabisin tempat sementara tu angkot penuh (heeeellllp!! T.T), dan jadi kenek juga (OMG!)
Kamipun membayar seribu rupiah per orang. Bukan gak tau umur, sob. Tapi emang deket tempatnya. Jadi pantes dikasih seribu rupiah per orang. Menyebrang jalan, kamipun sampai di tempat yang KATANYA murah dan lumayan. Selain itu, KATANYA ada tempat karaoke. Aku males sebenarnya karaokean, dengerin aja palingan.
Aku spontan meminta di lantai dua. Bukannya apa-apa, agak gak sregg aja di lantai satu. Alhamdulillahnya pilihanku tepat. Datanglah seorang pelayan dengan senyum tersungging di bibirnya. Dengan sopan kawanku menanyakan diskon yang ada di tempat tersebut (maklum cewek… gratis kan lumayan.. :p). Akan tetapi, oh no! Ternyata diskonnya habis. Kawan-kawanpun serta-merta ngoceh ria pada tu pelayan. Ditambah lagi, yang KATANYA ada tempat karaokean dengan sedikit berbelit-belit, usut diusut, inti secara kasarnya BELUM ADA!
Awalnya aku ikutan mengoceh, tapi setelah masmas itu menceritakan sedikit kesulitan hidup yang dialaminya karena harus menafkahi keluarga kecilnya dan lama-lama semakin berisik opininya, jadi diem aja deh (pusing). Kasian juga tuh mas mas jadi inceran kekesalan kami terhadap biaya menu yang tidak teratur dan juga actuating yang terkesan serampangan (ekonomi nihh…). Padahal yang salah kan manajernya, sebab yang begituankan manajernya yang urus. Grrrr….
Atas dasar rasa kemanusiaan, kamipun merasa bersalah meninggalkan tempat tanpa membeli apapun. Berdasarkan ide Mala dan kesepakatan semua pihak, kami membeli makanan dan minuman hanya sebagai syarat (syarat gengsi keluar dari restoran tersebut yang berujung pada kehancuran nantinya).
Eh, ditengah-tengah kekesalan kami, kami tambah dibuat BT dengan Tica yang tiba-tiba harus pulang karena sudah dijemput. Tapi ya sudahlah… Crazy goes on!!!
Setelah sang pelayan turun dan menyiapkan pesanan kami. Seorang wanita bernama Gilang Rindhani mengutak-atik televisi yang ketara banget bermerk T*elkomvision. Kamipun makan dan menambah pesanan. Lambat laun kok tiba-tiba kami pada beli es krim dan beberapa makanan ‘ringan’. Lambat laun kok makin tambah makin tambah???? Gimana sih ini? -,-“ Ya sudahlah saya ikut aja. Tapi gak pake bablas, bleees. Bisa berantakan kalau tidak hati-hati.
Di salah satu saluran televise, kami menemukan film Twilight Saga: New Moon (kyaaaaa!!!! Twilight!^^). Kamipun makan sambil melihat film tersebut. Berhubung aku suka Twilight, tampang begoku kumat dan mulailah aku ngeromet sana-sini tentang Twilight Saga terutama seri terakhirnya.
Sembari menyaksikan film, kami yang tadinya sendirian di ruangan itu akhirnya datang beberapa tamu yang lain. Oh iya, hampir lupa. Di lantai dua hanya kami pengunjungnya. Jadi bisa seenak jidat teriak-teriak 8 oktaf.. Hahahahahaaahggg..
Lucunya lagi, tuh masmas yang saya pikir punya kemampuan marketing yang luar biasa bagus karena dapat mempengaruhi kami semua sehingga banyak membeli makanan secara sadar atau tidak, ngajak Gilang berantem. Gimana gak? Setiap pesanan Gilang datang, selalu ditarik ulur. Gilang jadi kayak anak SD diiming-imingi permen sama penculik. Hihihihihii… Tapi hal tersebut wajar, mengingat masmas itu sangat saabaaar melayani dan meladeni kami yang cerewet naudzubillah sampe keringetnya segede-gede bola golf. Dan untungnya, Gilang aja, kami gak.. Hahahahahahaa.
Kami sengaja lama-lama sambil nonton gratis. Maklum beberapa dan hampir semua anak kos. Selesai menonton, kami hendak membayar. Sambil siap-siap turun, aku memerhatikan beberapa meja yang sudah ditinggal tamu. Sisa-sisa piring dan gelas dua meja tersebu kalau digabungkan menurutku sama dengan jumlah makanan yang kami habiskan… Wew.. Cantik-cantik, makan gahar…
Sekeluarnya kami dari ruangan makan, kamipun teringat satu session yang terlupakan dan sangat krusial sekali saudara-saudara!!! FOTO-FOTO... Jyah, gara-gara sibuk makan jadi lupa foto-foto. Mana handphone saya low bet. Untung masih ada sisa sedikit untuk mengabadikan moment tersebut. Kamipun bingung mau berfoto dimana (foto aja gupek coba? ckckckckckk .. hahahahaha :D). Kami menemukan tempat yang cukup bagus untuk foto-foto. Apa boleh buat? Tensin amat mau masuk kedalam ruangan lagi? Padahal dengan gaya staycool keluarnya. Apa kata dunia kami masuk lagi? OMG!!!
Dan alhasil….
Tadam… 137.000. Aku terperanjat dengan nilainya. Itu makan apa makan? Dengan mata terbelalak cukup lebar, kami mojok di parkiran tempat makan tersebut sambil menghitung bagian masing-masing. ditengah kegupekan kami, para satpam nyeletuk, "Ngapain itu?! Transaksi narkoba ya?" Wew. Kami terperanjat. Masa iya cantik-cantik begini tukang jual narkoba? Ah, bapak bercanda deh :D
Untung bagianku  dan sokongannya tidak sampai 30.000 (bisa kacau!!!!). Dan ada yang sampe 40.500, lebih malah kalau ditambahkan dengan sokongan, dll. Ckckckckckckk. Mana ada yang dibilang diskon ternyata tidak jadi diskonnya. Lagi-lagi organizing dan actuating tempat tersebut dipertanyakan dalam benakku dan agaknya sih kami pada berpikir sama. Mana lagi, selain masmas yang mengurusi kami, yang sabar itu lho.. Pada aseem dan tidak ramah pelayannya… Manajemennya buruk. Masa kami sih yang harus turun tangan? Apa kata dunia? OMG!!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati