Bagaimana?

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh.. Ikhwahfillah, beberapa hari terakhir, saya seringkali menjadi terlampau sensitif mengenai lingkungan sekitar terutama yang berbau agama kita, Islam.
---
Pada suatu siang yang cukup terik, saya termenung dalam sepi yang menghanyutkan meskipun di sekitaran sangat ramai akan manusia-manusia yang memperbincangkan masalah-masalahnya. Campuran peluh keringat dan sengat parfum ala modern membuatku mengeryitkan indra penciumanku.
Sepintas, mushala ini sangat biasa, sangat biasa. Padahal tempat ini seharusnya menjadi sebuah tempat sakral umat Islam dewasa ini di mana ketika akal ini bermain ingatan Rasulullah Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam berjuang hingga baginda ditimpuki bebatuan demi menunaikan kewajiban shalat di masjidil haram.
Tiba-tiba hatiku sakit. Aku teringat sebuah cerita di buletin Islami kampus, bahwa adalah seorang ulama yang ketika ada salah satu jama’ahnya yang datang di masjid, duduk, membaca koran. Dan beliau mengomentari yang kira-kira demikian,
“Membaca koran boleh dan bermanfaat. Namun, apakah kita sudah menunaikan kewajiban kita yang paling utama untuk shalat?”
Dari selintas esensi ucapan itu, aku terhenyak. Berapa banyak umat Islam yang melakukan dhikir, ibadah sunnah di masjid atau mushala dibandingkan menghabiskan waktunya hanya sekadar bercengkrama, canda tawa, curhat (curahan hati), syuro (rapat), makan, atau mengerjakan tugas, atau justru semuanya sekaligus? Ya Rabb, manusia macam apa aku ini?
Ketika mungkin lisan ini berkata-kata, dan kemudian mengumbar aib-aib orang lain, sesuatu yang tidak perlu. Terlalu banyak tertawa. Waktupun habis terbuang hanya sekadar canda tawa yang tidak perlu.
Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.
(Q.S Al-‘Ashr : 1-3)

---
Begitu banyak peluh tugas dan amanah yang harus dijalankan. Dan jujur kukatakan tatkala hanya aku berdua dengan-Nya bahwa aku sungguh tak sanggup. Sungguh bahwa aku letih dan lelah. Sungguh, bahwa kapasitasku tak lebih baik dari orang awam yang baru saja belajar agama. Pun jikalau ada yang ingin bilang saya anak kemarin sore dalam lingkaran ini, saya bisa terima karena benarlah adanya. Duh, ya Rabb.
Namun, Dia menjawab semua keluh kesahku dengan perantaraan makhluk-Nya bahwa sebagai seorang muslim, haruslah menjadi pribadi yang tangguh terutama dalam memegang amanah. Meskipun kapasitas sedikit, namun jika tidak berkontribusi, apa faedah diri ini? Menjadi umat yang diumpamakan sebagai buih di lautan?
“Kemenangan Islam itu sudah pasti. Allah sudah menjanjikannya kepada kita umat-Nya. Sekarang antum wa antunna tinggal memilih, ingin menjadi orang yang mengislamkan, atau yang diislamkan?”
Demikianlah ujaran seseorang kepadaku. Guru dan pengalaman baru untuk saya. Terlewat. Ya, merupakan suatu ibrah yang terlewat dan terlupa. Lagi-lagi hatiku sakit. Berat ya Rabb, aku memohon kekuatan pada-Mu. Kemanjaanku kian membuncah. Padahal telah disampaikan bahwa ujian itu akan senantiasa datang.
Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?, dan Kamipun telah menurunkan beban darimu, yang memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu. Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain), dan hanya kepada Tuhan-mulah engkau berharap.
(Q.S [94] : 1-8)
Ujian harus sulit.
Ujian harus seimbang.
Tak ada kemenangan tanpa ujian.
Ujian sesungguhnya merupakan suatu bentuk seleksi bagi mereka yang dianggap memiliki kapasitas untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya. Demikian pula dengan hidup ini. Namun, dalam hidup ini sungguh remidi yang digunakan sesungguhnya lebih sulit dari yang diperkirakan. Jikalau ujian yang diberikan sama seperti sebelumnya, berarti kapasitas diri belumlah meningkat.
Para sahabat, mereka lulus dalam semua cabang dan kategori. Baik lapang maupun sempit. Mereka adalah manusia-manusia terpilih yang dijamin masuk surga yang bahkan Abu Bakar Ash-Shiddiq keimanannya masih lebih berat dibandingkan keimanan seluruh umat. Meskipun sulit, mencontoh mereka dan suri teladan kita Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi  Wasallam –terutama- adalah sebuah kewajiban guna mencapai ridho Ilahi.
---
Sinar mentari kian menguning menjelang adzan ashar. Aku terus konsentrasi menghadapi barisan-barisan layar komputer yang mati tak memiliki rasa. Aku menerka-nerka jam berapa kiranya ini? Lalu, tiba-tiba salah satu laptop kawan bergema suara adzan sebagai pengingat bahwa diluaran sana adzan tengah berkumandang mengajak umat ini memuja-Nya.
Di tengah kejadian tersebut, salah seorang di ruangan melantang, “Oh, sudah adzan ya? Tapi, sebentar dulu deh, nanggung. Pasti diperbolehkan. Kan kita juga sibuk.” Seantaro ruangan terdengar suara tawa. Marah. Entah apa Cuma aku di ruangan itu yang terasa bagai tersengat listrik mendengar hal itu? Aku heran, mengapa mereka dapat tertawa mendengar hal itu? Mengapa dia bisa dengan tenangnya berbicara seperti itu?
Apa yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.
(Q.S. [55] : 29)
Rabb-ku Maha Perkasa. Dia menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan menjadi keadaan.
Rabb-ku Maha Pengasih. Dia memberikan ketidakterbatasan karunia-Nya. Dari udara yang leluasa terhirup hingga kedipan mata yang pun kesulitan menjamah kedipnya.
Rabb-ku Maha Penyayang. Dia tak pernah merasa letih mendengarkan dan memantau isi hati hamba-Nya padahal Dia selalu dalam kesibukan.
Subhanallah. Bagaimana dengan manusia? Sedikit kesibukan, lalu mengenyampingkan memuja-Nya nomor kesekian? Innalillahi! Entahkah dia mengerti tentang apa yang dia ucapkan tentang hal tersebut? Aku tidak mengerti. Dimana akidah? Duh, ya Rabb. Orang tersebut yang berkata, aku yang merasa malu.
---
Menghadiri kajian merupakan suatu hal yang kini lazim dalam kegiatan kampusku kini. Sembari menunggu kajian yang sedikit tertunda waktunya karena jama’ah dan panitia yang sedikit terlambat akibat rerintik hujan yang membasuh bumi, kami berbincang mengenai kondisi kampus saat ini. Di kala opini-opini dan argument mengalir deras dari seorang kawan yang aktif di salah satu lembaga kemahasiswaan tentang suatu debat lambat laun cerita mencapai antiklimaksnya. Sayang, antiklimaks tersebut justru menuai bara api di hati. Bagaimana tidak? Orang yang berpengaruh dalam denyut nadi kampus diceritakan membuat anekdot tentang Rabb-ku, Allah Ta’ala! Dan yang membuatku lebih geram, diceritakan bahwa orang-orang didalam ruangan yang sedang terjadi debat “panas” itu tertawa!!!
Ironis. Mereka bisa berdebat sekian jam dengan keras. Namun, ketika –sadar atau tidak sadar- mereka memperolok Rabb seluruh manusia, mereka bisa satu suara dalam tawa yang membahana seantaro ruangan.Menangis. Sungguh aku ingin sekali menangis mendengar cerita itu. Duh, ya Rabb, miris rasanya.
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah, "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?". Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami mema'afkan segolongan dari kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) di sebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.
(Q.S.[ 9] :65-66)
Aku akhirnya menemukan ayat ini di Al-Qur’an. Dan aku tertegun membacanya. Ancaman ayat ini sungguh sangat mengerikan. Astaghfirullah. Hindarkan ya Rabb dari perbuatan itu baik disengaja maupun tidak. Kuatkan akidah kami dengan nur-Mu yang suci.
Dan takutlah kamu pada hari, (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan syafaat dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong.
(Q.S [2] : 48)
---
Inilah keadaan umat ini. Saat ini. Tepat diujung matamu. Tak perlu mencari berapa luas langit untuk menemukan hal ini disekitaran kita.  Hari ini, aku termenung. Diam dan mencari. Bagaimana caranya mengubah itu semua? Sementara banyak diantara umat ini sama tidak mengertinya. Aku terpaksa menyendiri karena kelebat pikiran ini kian lama menyiksa. Aku hanya bisa menyandarkan semuanya kepada Allah Ta’ala, berharap Dia akan memperlihatkan bagaimana jalan keluar untuk semuanya. Wallahu’alam bish shawab. Wassalam warrahmatullahi wabarakatuh.

by Prima Helaubudi on Thursday, April 14, 2011 at 10:49pm ·

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati