Pugar

"Kamu harus memilih, Prima."
Empat. Hanya empat kata dan rasanya hancur berkeping-keping. Aku merasakan sakit yang mendarah daging.
Lagi-lagi aku harus mengubah orientasi di tengah jalan. Memugar semuanya seperti prakarya yang setengah jadi.
Aku tak pernah menyangka tiga tahun ini duniaku harus terjungkir balik berkali-kali. Ini jauh lebih sulit dari sebelumnya.
Aku tak perlu orang lain tahu. Cukup aku dan Yang Maha Kuasa yang tahu jelas praharanya. Aku tidak mau orang lain terbeban olehku. Toh beberapa dari mereka juga mulai mencicipi apa-apa saja ujian yang diberikan langit padaku beberapa tahun lalu.
Dan mereka tumbang..
Seperti jalinan benang kusut. Terkadang aku tak sabar dan menarik semuanya hingga semrawut... dan memulai memugar lagi dari awal.
Pilihan... Satu pilihan menentukan segalanya. Menentukan apa yang selalu singgah di hatiku, apa yang aku perjuangkan, dan... apa yang aku tinggalkan.
Aku berpikir semua akan sesederhana mungkin. Tapi ternyata dibandingkan mereka justru aku salah satu yang paling tidak sederhana.
Lagi.. Lagi-lagi.. Kenapa harus air mata lagi? Kadang aku harap air mata ini kering saja.
Aku hanya bisa melakukan yang terbaik. Biar takdir-Nya menentukan segalanya. Entah tali takdir yang mana, siapa yang aku tinggalkan, dan siapa yang akan aku temui esok hari.
Abaikan saja mereka yang berbahagia dengan juntaian kehidupan dunia. Aku toh tidak tahu apa-apa.
Tidurlah, Prima.. Malam ini mengarung, menyentuh orbit-orbit galaksi; lalu tersembul dalam samudra paling dalam seperti apa yang ada dalam hatimu. Pasang perisai terkuatmu: rasa kebas membelikat.
Ini yang memang harus kau terima. Risiko mencintai adalah kesetiaan utuh. Jangan pernah memulai (mencintai) jika kamu tidak siap untuk setia pada apa yang kau cintai. Jangan umbar rasa cintamu! Dengan itu kesucian akan membalut cintamu. (Berdoa) dapat mengguncang 'Arasy.
Pukul 00.30 WIB.
Sugesti sejenak. Dan aku akan kuat saat bangun nanti. Untuk yang akan aku tinggalkan, maka selamat tinggal. Untuk yang akan aku temui, maka selamat datang. Semoga segera bertemu kamu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati