Is That The Part?

"Is that the part?"
Itulah bisikan hatiku yang penuh dengan tumpukan tanda tanya.
Apakah ini bagiannya? Aku terheran. Sejenak menengok ke belakang dan melihat dia, aku yang sama.
Aku yang dahulu tak pernah berpikir akan jadi seperti ini. Bergabung dengan yang dahulu kusebut 'mereka', outgroup itu.
Tapi itu dahulu. Sekarang aku ingroup.
Pada awal, aku berpikir untuk biasa-biasa saja. Tetap jadi aku yang super suka belajar dan berekspresi. Ternyata tetap. Tapi ketetapan itu hadir dalam nuansa berbeda.
Bertemu mereka yang bersinggungan. Mereka yang meniti jalan kosong penuh angan dunia.
"Aku akan begini, kemudian begini dan begitu."
Tapi tak satu pun ada Allah. Tapi kau akui agamaNya.
Aku kasihan pada mereka yang mengejar dunia untuk tinggal di belahan bumi Allah lain, mendapat prestise karena di tempatkan di medan yang wah, dan lainnya.
Sepertiku dahulu, mereka menertawakan orang-orang yang hatinya teramat lembut atas tanda-tanda kekuasaanNya. Matanya mudah menangis atas kesalahan-kesalahan bahkan yang teramat kecil.
Seandainya iman dapat dibeli. Tapi, sudahlah.
Seharusnya, kita sadar bahwa kita harus menertawakan hati kita yang sekuat batu. Tak tersentuh akan tanda-tandaNya. Tapi justru kita tertawakan mereka yang pandai memilah kebenaran. Mereka yang diberikan Al-Furqon.
Teringat kisah di salah satu buku yang aku baca. Tiga orang berekreasi ke pantai. Seseorang dari mereka melihat ombak lautan lalu menangis. Orang kedua melihat ombak dan orang pertama menangis. Dia ikut menangis.
Sementara orang ketiga? Dia melihat ombak dan kedua kawannya tanpa merasa apa-apa selain bingung.
Dia pun (orang ketiga) akhirnya bertanya pada orang kedua, "Mengapa kau menangis?" Orang kedua menjawab, "Aku menangis karena melihat kawanku (orang pertama) menangis."
Tapi orang ketiga tak kunjung mengerti. Dia menanyakan orang pertama pertanyaan yang sama. Kemudian orang pertama menjawab, "Aku menangis karena gulungan ombak ini mengingatkanku pada adzab Allah di kubur. Saat meninggal berlumuran dosa, adzab itu akan menggulung tubuh kita seperti ombak ini."
Alhasil, orang ketiga menangis. Tangisan pilu itu dipicu oleh kebebalan hatinya pada tanda-tanda kekuasaan Allah dan ketidakpekaannya pada betapa buruk dirinya dibandingkan kedua kawannya.
Murobbi awal tarbiyah-ku pernah mengatakan, "Menangislah jika kalian tidak bisa menangis. Menangislah karena kalian tidak bisa sedih atas kebekuan hati kalian."
Is that the part?
Masih juga kutanyakan. Dahulu, boro-boro aku mau tahu siapa dibalik ideologi-ideologi politik dan ekonomi. Boro-boro mau berpikir tentang imperialisme agama.
Is that the part?
Timbul rasa yang tercampur aduk melihat mereka yang berada dalam lingkungan terkondisi tapi buruk. Sementara di luar sana, banyak yang tidak dapatkan nikmat itu.
Terbukti sudah ucapan seseorang, "Rumput yang tumbuh di tanah yang kering akan jauh lebih kuat dari rumput yang tumbuh di tanah subur. Rumput yang hidup di tanah yang kering memperpanjang akarnya menerobos lapisan tanah untuk mencari air. Dia juga menumbuhkan duri-durinya agar tidak mudah dicabut manusia. Sementara rumput yang berada di tanah subur? Dia tidak perlu memanjangkan akar ataupun menumbuhkan duri. Semua telah tersedia. Sehingga dia mudah dicabut manusia."
Is that the part?
Aku tak pernah sangka Allah memberikan nikmat iman dan keinginan kuat untuk mempelajari agamaNya.
Sebagai penutup, ada sebuah penuturan Umar bin Khaththab radhiallahu'anhu mengenai keislamannya.
"Wahai Umar! Aku dengar engkau telah memeluk Islam. Padahal dahulu engkau membencinya."
Umar menjawab, "Ya. Dulu aku membencinya. Tapi sekarang aku telah memeluk Islam. Aku beralih dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah lainnya."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati