Dasar Gak Seberapa!

Aku merasa bosan dan melihat isi televisi nasional Indonesia. Dan hem, aku menemukan stasiun televisi yang sedang membahas tentang birokrasi dan mekanisme penerimaan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Aku mendengar rangkaian teoritis dan praktis dari para pakar. Beserta pula jurang pemisah yang terjadi untuk mencapai suhu ideal.
Dalam diskusi tersebut, pada deretan bangku banyak mahasiswa yang hadir sebagai peserta.
Aku bad mood lagi-lagi mendengar masalah ini lagi. Mungkin rasa malasku ini tercipta akibat sebuah situasi. Dalam perkuliahanku kini, aku diharuskan untuk mempertajam analisis berbasis data/fakta dan teori. Jadi sering alhasil masalah dan solusi yang ditawarkan sudah terpatri di pikiran. Sungguh tidak seru!
Kawan-kawanku di kampus sampai bosan mungkin memintaku memuntahkan rasa kritis yang bergemuruh di pikiran. Tapi urung aku lakukan. Alasannya sederhana. Sering jawabannya aku temukan sendiri sekitar satu-dua menit setelahnya.
Di hal lain juga, misalnya. Aku mulai malu-malu kucing jika menilik ke masa lalu dan menglasifikasikan kegalauan-kegalauan. Banyak yang tidak penting. Walaupun memang, beberapa kawan yang aku bongkar masalah hal-hal yang menggelayuti pikiran justru salut aku bisa CUMA sepanik itu.
Whatever pendapat mereka, entah kenapa kalau bisa ingin rasanya membodoh-bodohi diri sendiri. Karena jawabannya hanya satu:
Kedekatan pada Al-Quran dan As-Sunnah.
Masalahnya adalah menjaga sensitivitasnya. Sebuah pekerjaan rumah (PR) besar yang belum usai.
Think harder!
B.Lampung, 22.07 WIB
retorika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati