Sekadar Cantik Itu...

Kecantikan. Apa yang kalian pikirkan tatkala kata--yang selalu identik dengan perempuan--ini dicetuskan? Kalau aku pribadi akan mengeluarkan beberapa kata seperti: kulit indah, make up tebal, operasi plastik, dan ajang pencarian "bakat". Entah mengapa. Mungkin karena tanpa sadar apa yang digembar-gemborkan oleh tayangan televisi dan/atau media-media lainnya sudah terindoktrinasi dalam pikiran.
Sumber: Pinterest, disunting dalam bentuk kolase oleh penulis

Kebanyakan orang melakukannya. Mengetahui tren make up terbaru, pakaian-pakaian bermerek musim ini, menabung demi operasi plastik, dan bahkan rela--maaf--ditelanjangi demi terkenal akan kemolekan tubuhnya. Uang yang banyak digelontorkan tanpa main-main. Kesempurnaan tubuh dan tampilan tingkat tinggi dibentuk dan diharapkan.

Kesempurnaan tubuh dan tampilan itu tidak hanya ditampilkan di dunia nyata. Tapi juga di dunia maya. Beragam aplikasi untuk selfie yang membuat diri bak artis Korea dadakan menjamur. Mengherankannya, laku dan laris.

Kecantikan rupa ini membuat kebanyakan orang--yang mayoritas adalah lelaki--tatkala disematkan topik ini, menjadi geram. Mereka merasa tertipu. Pada suatu peristiwa, kakak tingkatku pernah berkata, "Gue sering ngebatin kalo kawan gue cerita habis ketemu atau kenalan sama cewek cakep, cantik, bohay. 'Woy, jangan seneng dulu. Lu suruh itu cewek ke WC. Hapus make up-nya. Baru lu boleh bangga dan ngebuat gue jeles dapet kenalan cewek cakep. Beneran cakep, apa nggak?'"

Tidak hanya itu. Banyak kejadian yang mengatasnamakan banyak media sosial ternama. Berkenalan dengan perempuan cantik. Entah bagaimana caranya--aku pun tak habis pikir--menjalin hubungan jarak jauh. Kemudian bertemu dengan ekspektasi bahwa wajah di dunia maya dan nyata adalah asli. Eh, ternyata zonk! Foto hasil suntingan. Parah? Ini masih lebih baik dibandingkan foto yang ternyata adalah palsu dan diambil dari foto-foto orang lain. Penipuan terselubung, Saudara.

Tapi masalahnya: kenapa banyak yang masih tertipu? Mungkin kata-kata singkat yang pernah aku temui secara acak di media sosial bisa membuka wawasan kita semua. Perempuan itu suka dipuji, makanya laki-laki doyan menggombal. Laki-laki itu suka perempuan cantik, makanya perempuan doyan bersolek.

Sesuatu anomali terjadi juga. Meski perempuan bersolek sedemikian rupa, namun tetap ada yang tidak menyukainya. Mungkin di sini aku bisa memasukkan istilah: cantik itu relatif. Buktinya, secantik apa pun seorang perempuan, selalu ada yang tidak menyukainya. Luar biasanya, ada yang tidak suka meskipun belum berkenalan lebih dalam.

Ini membuktikan bahwa kecantikan rupa ada batasnya untuk memikat seseorang. Sebagaimana rupa juga memiliki batas untuk dipercantik. Lihatlah berapa banyak yang melakukan operasi plastik guna mempercantik rupanya, namun berakhir dengan tragedi. Rupanya justru menjadi aneh dan tak bisa dikembalikan sebagaimana semula. Getir.

Ratusan juta untuk memperbaiki rupa itu murah. Murah karena setiap orang dengan mudah mengetahui kelemahan yang ada pada rupanya. Tapi, uang ratusan juta tidak dapat membeli kesadaran dan keberhasilan diri dalam membenahi diri agar memiliki kecantikan perilaku (inner beauty). Kecantikan yang membuat orang yang hidup berdampingan dengannya tidak lekas bosan dan nyaman.
 Sumber: di sini

Berapa banyak orang yang tidak mendapatkan ilham untuk mempercantik perilakunya? Padahal tidak seperti kecantikan rupa, kecantikan perilaku adalah kecantikan yang tidak memiliki limit untuk dibenahi. Kesabaran untuk mendapatkan kecantikan perilaku juga tidak dapat instan. Terkadang, butuh waktu seumur hidup walau hanya memperbaiki dan/atau menanamkan satu kelakuan (baru) saja. Mari coba kita hitung. Seumur hidup berapa uang yang dapat kita miliki? Sementara dengan semua uang tersebut, belum tentu seseorang sadar untuk memperbaiki dan/atau berhasil memperbaiki perilakunya.

Sekadar cantik (rupa) itu... ternyata murah, Kawan.

Bandarlampung, 23/02/2018
Prima Helaubudi
Tema tantangan: Kecantikan
Esy Andriyani | Mita Rusmiati | Ayu Khodijah | Nisa Larasati | Agnes Rachmawati | Zulaikha Karen | Debbie Dwi Anggraini Madulis | de el el...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati