Menghapus Pagi

—cerita sang bayangan

Mengapa kaudiam saja? Pertanyaan ini seharian, semingguan, dan jadi bulan-bulanan. Tambang yang dahulu bersimpul keras mengikat kita bersama, tiba-tiba kaubakar perlahan—nyaris putus. Aku… Shhtt!

Jarak ilusi ini memberangus tata bangunan—yang dahulu—keempat tangan membangun rahasia bersama. Mengapa di suatu pagi pedangmu menghancurkannya?

Bagaimana aku dapat menghapus pagi? Jika di setiap jalan yang pernah aku lalui engkau juga pernah menapakinya bersamaku. Kita sering melihat ke langit dan berbicara tentang pagi. Demikian juga dengan hujan yang kita sambut dengan pilihan warna pelangi.

Tapi tak ada lagi kita. Pada pagi yang jejakmu ada di sana, aku memohon kenangan yang mengingatkan tak lagi hadir kembali.

Wahai kau, yang dikelilingi warna-warna terbaik. Akulah hitam, warna gelap: bayangan. Bayangan hanya mengikuti satu cahaya, kautahu? Dan bagiku, itu adalah kamu.

Suaramu bergema berbeda. Suaramu ada di atas suaraku yang telah kutimang susah payah.

Kata-kataku berdiam dalam biara
: menatapmu

Bandarlampung, 3-5-2016
Prima Helaubudi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati