Terbawa Arus Akankah Bertemu denganMu Selamat?

Kehidupan seperti samudra yang telihat tiada batas bagi ikan-ikan kecil; bahkan pula bagi ikan-ikan dan mamalia besar. Ombaknya kuat, kadang lembut. Kadang cerah, kadang badai. Topan seumpama. Lalu, setiap yang hidup di dalamnya mencari cara bertahan hidup. Menunaikan tugas yang telah Ilahi berikan di setiap ruas tetulang dan hembusan nafas di insang dan paru. Lahir-tualang-berkembang biak-mengurus anak-dan--mati. Siklus yang tidak jauh-jauh dari situ.

Bagaimana dengan manusia? Makhluk berakal dan diklaim sebagai penguasa kehidupan dunia ini? Sebagian manusia berjuang dengan hebat dalam kehidupan ini. Banyak ambisi. Banyak cari rezeki. Menginginkan guna yang dahsyat dan berharap takkan dilupakan hingga ratusan tahun lamanya. Pertanyaannya, Apakah itu harus?   Manusia menolak berjalan sebagaimana siklus yang terjadi di ikan, samudra, dan alam semesta, tampaknya. Atas nama kehendak bebas, manusia menggelorakan segenap rasa, asa, dan juang untuk dapatkan kemerdekaan atas hasil usahanya. Akan tetapi, pada akhirnya, tetap saja jalan yang dilalui tak beda dengan siklus yang dibenci itu: lahiran-tualang-berkembang biak- mengurus anak-dan--mati.

Bicara soal hewan yang tak bisa bicara; sebagian kita menyatakan Apa perlunya samakan kita dengan mereka? Apakah manusia tak tahu bahwa ikan-ikan dan mamalia dalam samudra itu juga melakukan perjuangan? Mereka tidak selalu ikut arus. Mereka menimbang dengan segala indra mereka. Tapi akhirnya mati juga? Sebagian manusia begitu mati-matian ingin mendapatkan apa yang diasakan. Terkadang sampai lupa: terlalu ikut arus. Semua atas nama beda tempatlah, toleransilah, dan lah demi lah yang lain. Kenapa batasan itu tidak ada? Di mana kemampuan segenap panca indra? Kemampuan spesial bernama akal yang lengkap itu? Kalau terus saja mengikuti arus kehidupan yang justru--ironisnya--terpengaruh oleh cuaca?

Bandarlampung, 1 Maret 2016
Prima Helaubudi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati