Bunga Plastik Kehidupan

Kehidupan di dunia adalah soal memilih. Banyak sekali pilihan berada di dunia ini. Di satu sisi, engkau selalu bisa memilih jalan yang mudah meski tidak benar. Di sisi yang lain, engkau juga selalu bisa memilih jalan yang benar meski butuh keberanian. Menyoal ini, aku pernah berdiskusi dengan seorang kawan di awal masa perkuliahan. Dia mengomentari pilihanku berhijab, berusaha tidak berjabat  tangan dengan non mahram, dan menuntut ilmu agama. Dia mengatakan padaku, alangkah sayang, aku, yang dia anggap adalah orang yang punya prospek hidup keduniaan yang bagus hanya berjibaku dengan apa yang dia sebut dengan "itu-itu saja".

Diskusi berlanjut dan dia melontarkan sebuah kalimat, "Prim, kita hidup dunia itu biar nggak susah harus ikut arus. Layaknya ikan. Ke mana arus membawa, kita ikuti. Itu kebenarannya." Karena saat itu diskusi telah berjalan cukup panjang sehingga menyebabkan otakku cukup panas untuk mencerna, aku tidak membalas panjang. Aku hanya diam. Ternyata di banyak  hari selanjutnya, aku mendengarkan beberapa orang kawan yang dia anggap memiliki prospek hidup yang bagus namun tidak mengambil jalan yang sama dengan dirinya juga melontarkan pernyataan yang sama.  Seorang yang aku anggap cerdas--dan cukup nyinyir--di kalangan kawan-kawan--menjawab di hadapanku pernyataannya, "Menurut  gue dia salah. Cuma ikan mati  yang selalu ikut arus. Nggak punya prinsip hidup dan ikut ke sana kemari."

Aku sangat  sepakat. Jika itu adalah hal yang benar, kenapa kita begitu takut untuk berdiri dan menghantam tantangan di depan? Lakukan perhitungan matang dan kesiapan untuk menerima konsekuensi kegagalannya. Make a bold choice. Adakalanya kehidupan mengikuti arus--untuk hal-hal yang tidak menyalahi prinsip, adakalanya kehidupan melawan arus--jika menyangkut perbedaan prinsip. Tidak bisa kita selalu mengikuti keinginan orang, ekspektasi orang. Lalu menerima tuduhan buruk karena ketidaksesuaian kita dengan orang lain. Apabila kita balik, belum tentu orang lain mau menerima ekspektasi yang kita buat. Ketinggian seringnya.

Ekspektasi ini bermula dari adanya norma-norma yang terterap dalam masyarakat. Suka tidak suka, kita hidup dalam kungkungan aturan dan norma. Baik norma agama, norma kemasyarakatan, norma keluarga, dan sebagainya. Akan tetapi, jiwa kita laksana burung yang terbang tinggi di udara. Ia ingin bebas dari segala kungkungan. Karena kungkungan membatasi gerak-gerik dan cakrawala yang bisa ia temui.

Pun, orang-orang yang memberikan ekspektasi kesempurnaan pada kita, tak syak lagi menganggap kita mampu. Mereka ingin yang terbaik dengan kualitas menakjubkan sehingga kita punya track record hebat di antara manusia. Kebanyakan orang tua, misalnya, ingin anaknya memiliki nilai yang bagus di sekolah, memiliki pekerjaan bagus, mapan dengan kendaraan mentereng, keluarga yang bahagia, dan keturunan yang bisa diandalkan. Akan tetapi, janganlah lupakan bahwa manusia adalah makhluk unik. Bukan robot yang bisa diatur dengan seenak kata. Individu memiliki kehendak yang berbeda. Pencapaian di dunia pun, memiliki sisi kelam tersendiri.

Sumber: Unsplash

Pencapaian dunia merupakan fitnah juga. Di satu sisi ia adalah nikmat, di satu sisi ia adalah ujian. Kehidupan di dunia ibarat bunga plastik. Cantik dari jauh namun saat digapai, ia tidak asli. Pun, bagi mereka yang mengejarnya, bagiku ibarat seorang anak perempuan yang berada di pantai mengenggam pasir. Sebelah tangannya penuh dengan pasir lalu dia berlari mengenggam pasir itu dengan kuat. Berhenti di tempat lain, dia mengambil segenggam pasir lagi dengan tangannya yang lain. Setelah itu, dia tersadarkan bahwa pasir di genggaman sebelumnya telah menghilang bertaburan.

Sumber: di sini

Kehidupan mengharuskan apabila seseorang menginginkan sesuatu, ada pengorbanan yang harus dibayar. Sayangnya, dalam aliran takdir yang selalu maju tanpa mengenal kata mundur, kita tidak pernah tahu perihal apa yang harus kita korbankan ke depannya. Mencemaskan, bukan? Salah satu cara mengurangi cemas itu adalah dengan berdamai.

Bagaimana berdamai dengan itu semua? Taatilah aturan dan norma yang benar dan baik berdasarkan petunjuk-petunjuk yang tersedia. Tak lupa, tetap biarkan jiwa melanglang menjadi pribadi yang unik. Apakah itu mudah? Tentu saja tidak. Terlalu taat dengan norma dan aturan akan membuat jiwa merasa tak hidup. Terlalu bebas akan membuat diri sempit karena bersendirian; jarang menemui orang sebebas dirinya. JadilahJadil yang arif. Diri yang bisa menempatkan kebutuhan jiwa dan lingkungan di pertengahan. Sebab hidup terlalu pendek untuk menggapai ekspektasi semua orang. Sebab hidup terlalu panjang untuk berdiri sendirian.

Sumber Pinterest The Muslim Show


Teringat sebuah pernyataan saat
kajian Ustadz Anas Burhanuddin, M.A.
tentang atsar dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Mas'ud berkata, "Terkadang, seorang hamba 
membidik perniagaan yang besar dan jabatan yang tinggi.
Tapi karena kasih sayang Allah, Allah mengatakan pada malaikat,
"Jauhkan dia dari jabatan dan harta itu. Karena bila dia dapatkan itu,
ia akan dekat dengan api neraka."

Bandarlampung, 21-25/03/2018
Prima Helaubudi
Tema tantangan: Kehidupan
Esy Andriyani | Mita Rusmiati | Nisa Larasati | Ayu Khodijah | Agnes Rachmawati | de el el

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati