Karena Gue Seorang Bajingan

Waaaaah lama tak jumpa... Sekarang udah punya dedek aja, Prima...

Seorang kakak tingkat saat aku mengenyam Sekolah Menengah Atas (SMA) mengutip kalimat perkenalanku di suatu grup WhatsApp (WA) berskala nasional yang ada cabangnya di provinsi yang kini aku tinggali. Aku cukup terkejut mengetahui kami berada di grup yang sama. Kami sekian lama sudah tak jumpa lagi. Aku menyimpan nomornya di smartphone-ku, lalu menanyai kabarnya.

Panjang obrolan, aku pun teringat sesuatu. Lalu, dengan naluri ke-kepo-anku, aku melihat profil picture dari WA kakak tingkatku. Aku penasaran dengan siapa dia menikah. Lalu terpampanglah wajah sepasang suami--istri yang telah sah menikah dengan mengenakan baju adat Lampung. Begitu sumringah.

Aku sekarang di Singkawang, Prim. Ikut suami.

Ujaran di salah satu tulisannya kira-kira. Dia pergi jauh membersamai suaminya. Suaminya, orang yang aku pikir aku akan mengenalinya.

***

Hari yang terik untuk melakukan latihan dasar untuk ekstrakulikuler. Adik-adik tingkat yang kabur. Alumni yang datang banyak. Pas sekali rasanya dihempas dengan segelas air minum. Aku merasa tidak becus menjadi Koordinator Latihan (KorLat). Aku minum sembari bertanya-tanya apa yang ada di pikiran mereka.

Meski sambil bercanda, aku cukup kesal dengan sindiran sepinya latihan dasar hari itu. Ya sudahlah, ya. Tak usah diambil pusing. Aku anggap itu bonus untukku istirahat berlatih. Jadilah kami sesi bermain dan berbincang-bincang dengan alumni. Alumni yang hadir hari itu cukup banyak. Ada Kak R, S, T, dan U untuk yang laki-lakinya. Lalu juga Mbak A, B, dan C.

Mereka berbincang, bercanda, dan tertawa. Aku merasakan atmosfer yang berbeda. Seperti ada yang jatuh cinta. Satu-dua dari mereka, aku tahu sedang menjalin pendekatan. Tapi, bukan mereka. Entahlah. Mungkin hanya tebakan bodohku lagi. Lebih baik aku sibuk dengan kawan-kawanku lagi. Kami yang mana terkadang bahkan seringnya tidak nyaman dengan kehadiran mereka.

Satu demi satu dari mereka pulang. Lalu, pekikan tawa keras keluar dari beberapa kakak di sana. Mbak B bertanya kepada Kak U, "Kak U, lo seriusan nggak mau ikutan karaoke?"

Kak U menjawab, "Iya. Gue serius."

Entah apa percakapan yang terjadi selanjutnya. Hanya saja aku melihat Kak U dikongek habis-habisan dengan kakak-kakak tingkat laki-laki yang lainnya. Lalu, dengan kesal sambil tertawa, ia berpura-pura benda memukul mereka. Tapi hanya berakhir dengan pukulan pada angin saat mereka pergi menjauh. Kak U pun mengumpat, "Njing!"

Kak U pun duduk sendiri dan menghampiri aku yang saat itu sedang bersama kawan-kawan. "Prim, Prim. Sini geh. Gue mau ngobrol serius." Wajahnya begitu serius.

"Ya udah. Gue sama Y pergi jajan dulu, ya, Prim." Si D dengan enaknya melenggang pergi sambil menyeret Y ikut serta. Demi apa aku harus berdua dengan Kak U. Aduh bersama alumni khususnya yang laki-laki, dan berdua saja? Itu sangat sesuatu.

Aku menghampiri Kak U. "Lo ngapa, Kak? Muka lo serius amat?"

"Gue mau cerita." Pungkasnya. Di hati aku menjawab yang tak diperdengarkan. Ya iyalah lo mau cerita. Tadi udah bilang. Kalo kagak mana gue kejebak begini sama lo.

"Tapi lo jangan bilang siapa-siapa." Aku mengangguk. "Gue usahain."

"Gue percaya ke lo." Dia diam lama. Akhirnya aku gusar dan bertanya ulang, "Emang ada apa sih?"

"Menurut lo, Mbak B itu gimana?"

Aku melonggarkan kerutan di dahiku. Ya ampun. Jadi seserius ini cuma buat tanya ini saja? "Menurutku Mbak B orang yang baik, cerdas, ceria. Dan di antara alumni cewek lainnya sih, gue paling suka sama dia."

"Gue juga." Lalu kami terdiam. Tiba-tiba dia berkata lagi, "Gue suka sama B, Prim."

Mataku membelalak. "Eh, Kak. Lo serius suka sama Mbak B. Suka sebagai apa dulu nih?"

"Ya suka selayaknya cowok ke ceweklah. Masa gitu aja lo nggak ngerti? Dodol!"

Aku mendengus, "Gue cuma konfirmasi aje. Sape tau gue salah pikir, kan?" Aku jeda lalu berkata lagi, "Lah. Bukannya lo sendiri udah punya cewek?"

Kak U menghirup rokoknya. Lalu, iya buang asapnya ke udara di atas kepalanya. Rokok itu dijepit pada kedua jemari tangan yang dia sandarkan di lutut kanannya. "Beda, Prim."

"Beda apanya?"

"Gue ngeliat B sebagai calon istri."

Aku diam sejenak. Mencerna. Mengedipkan mata cepat beberapa kali sebelum menjawab dengan ragu, "Memang apa bedanya?"

Dia menghembuskan rokoknya. "Calon istri, ya, untuk jadi istri dan membesarkan anak-anak, Prim. Kalau pacar just for having fun aja."

"Hm. Jadi, pacar lo sekarang, nggak bakalan lo jadiin istri, Kak?"

"Iya."

Hening. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing-masing. Aku pun membuka omongan, "Memang kenapa lo bilang Mbak B itu bisa jadi calon istri yang baik?"

"Setiap gue liat dia, Prim, batin gue selalu bilang, "Kalau B jadi ibu dari anak-anak gue, anak gue udah pasti safe." Gue pernah ajak beberapa kawan gue ke rumah. Kakak perempuan gue, nggak pernah komentar kalau gue bawa cewek gue atau kawan-kawan gue ke rumah. Pas ada si B, kakak gue komentar, "U, gue suka lho sama B. Orangnya baik, asyik, dan cerdas." Terus gue mikir, iya juga."

"Ya udah. Sederhana sih, Kak. Kakak tinggal putusin cewek kakak sekarang terus kejer Mbak B aja."

"Masalahnya nggak sesederhana itu, Prim."

Aku menelengkan kepala; tidak mengerti. "Maksudnya, Kak?"

"Lo nggak liat gue, Prim? Maksud gue, lo nggak liat gimana buruknya diri gue?"

Aku mengerutkan dahi. Kemudian, aku menggeleng tidak mengerti.

"B itu terlalu jauh buat gue, Prim. Dia terlalu baik buat gue. Dia bisa gue bilang sempurna banget. Sementara gue, Prim? Gue nggak mungkin tega ngejer dia walau gue suka sama dia. Karena gue seorang bajingan."

Sumber: di sini

Aku tersentak dengan kosakata "bajingan" yang disematkan Kak U dalam pembicaraan itu. "Lo terlalu merendahkan diri lo sendiri, Kak. Kalaupun iya, jalan masih panjang buat lo untuk berubah."

Kak U menggeleng. "Lo nggak tau apa aja yang udah gue lakuin, Prim. Kalau lo tau, lo juga akan lari dari gue."

Aku hendak membantah kembali seandainya tidak terdengar pekikan suara kawan-kawanku yang kembali dari kantin membawa banyak makanan. "Cieee, Prima. Ditembak tah lo?"

"Kepala lo yang gue tembak ntar." Aku membalas. Kami pun tergelak. Pembicaraan sebelumnya terserak bagaikan dedaun beringin yang rontok di pertengahan musim kemarau.

Di alam bawah sadarku, aku berteriak. Aku membantah ucapan Kak U tentang dirinya. Aku melihat dirinya menjaga auratnya saat hendak pergi salat Jumat. Aku melihat dia masih minta maaf jika ada kritikan mengenai kesalahan-kesalahan yang dibuatnya. Aku melihat tunas-tunas kebaikan yang sedang bersemi dan tumbuh.

Sayangnya, tunas-tunas kebaikan itu mesti berjibaku dengan tumpukan gulma yang tak dibersihkan. Sampai saat ini, aku tak tahu. Apakah tunas-tunas kebaikan itu semakin liar ataukah gulma-gulma itu semakin tertata? Entahlah. Tapi, sebagaimana manusia yang--berusaha--baik, aku berharap kebaikan-kebaikan itu menjadi dominan atas dirinya.

***

Wah, pas banget yak? Aku akad, kamu melahirkan?

Aku sekarang sedang menanti, Prima. Usia kandunganku sekarang lima bulan.

Salam buat dedeknya, ya?

Jawaban-jawaban chat via WhatsApp pun membuyarkan lamunanku. Mungkin jawabannya sudah kutemukan.

Sumber: di sini

Bandarlampung, 18/03/2018
Prima Helaubudi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati