Kenangan #11



Senja itu merekah merah.
Padamnya adalah suatu ketetapan.
Akan pergi, tapi kembali senja itu belum suatu yang pasti.
Bukan. Bukan senjanya.
Tapi si tokoh "aku".
Senja lumrah memalingkan wajahnya pula.
Bukan. Bukan hanya si tokoh "aku".
Sudahlah! Tunggu saja akhirnya meskipun semua terasa bergejolak.
Apalah artinya menunggu seribu malam demi satu senja indah itu?

Bandarlampung, 12 Desember 2010
Prima Helaubudi
Via Facebook

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Manuskrip Teater

Sajak Anak-anak Mati